26 Agt 2006

PINK Episode 21


Pink Episode 21

Ibunda Reigy melihat anak perempuannya berenang. Ia sempat menyesal karena tidak bisa melihat perkembangan putrinya itu. Namun sekarang ia senang karena Reigy sudah berkumpul kembali dengannya.

Sementara Luna yang hamil, minta pertanggungjawaban Faisal.

Pink melihat Jingga di kamarnya. Dia sudah tertidur. Kemudian Pink turun tangga yang langsung disambut oleh Ruben.
“Pink, gimana?” tanya Ruben.
“Jingga baik2 aja. Tadi dia udah minum obat.”
“Bukan Jingga. Tapi elo. Lu nggak apa2 kan?”
Pink tidak menjawab. Lalu Ruben memeluk Pink, dia tahu Pink masih shock. Tapi pelukan itu dengan segera dilepas oleh Pink begitu dia melihat Reza.
“Ya udah gue mau pulang dulu,” kata Ruben. “Mau bareng?” tanya Ruben pada Reza.
“Duluan aja. Gue masih ada perlu sama Om Hernawan,” kata Reza.
Akhirnya Ruben pergi, tapi dia sempat menoleh ke belakang. Seakan-akan curiga dengan kedekatan Pink dengan Reza.

Kepada Om Hernawan, Reza melamar Jingga. Dia sudah tau keadaan Jingga dan berniat ingin membahagiakannya. Malah dia ingin pernikahannya dipercepat.

Keluarga Ruben berkumpul membicarakan rencana pernikahan Reza yang terkesan mendadak. Tapi mereka menerima apa pun keputusan Reza. Lagipula Jingga ingin pernikahannya berlangsung secara sederhana. Saat itulah Ruben muncul mencari2 Robin.
“Robin mana, ya?” tanyanya.
“Tadi pagi dia pergi ke rumah Jingga,” kata Renata. Dalam hati dia berpikir. Oh iya, Robin kan naksir Jingga.

Jingga senang sekali karena Reza tetap menikahinya walaupun dia dalam keadaan sakit. Malah rencana pernikahannya dipercepat. Dia bercerita pada Pink yang saat itu mau berangkat sekolah. Robin yang baru datang kaget mendengar kata2 Jingga.
“Apa? Kamu mau merit dua minggu lagi, Ngga?”

Pink menarik tangan Ruben untuk duduk di bangku. Saat itu keduanya masih berseragam sekolah.
“Kok kakak lo kaget waktu dengar kakak gue mau merit?” tanya Pink.
“Kakak gue? Robin maksud lo?”
“Iya. Yang mana lagi? Emang kakak lo ada sepuluh?”
“Robin itu emang suka sama Jingga. Kemarin gue dan Rena juga binugung bagimana ngasih tau ke dia.”
“Kok bisa, ya?”
“Ternyata keluarga lo punya pesona tersendiri buat keluarga gue.”
Pink mau jitak kepala Ruben. Tapi seperti biasa, nggak kena.
“Daripada lo pusing mikirin mereka, mending lo mikirin...gue dan elo. Sebentar lagi kan gue lulus. Lu tau kan gue maunya apa?”
Pink mikir sebentar.
“Oh, lo minta hadiah kalo lo lulus?”
Ruben jadi gemes karena Pink nggak tau keinginannya. Lalu ia berjongkok di depan Pink.
“Gue mau kita tunangan,” katanya.

“Hah? Tunangan?” teman2 Pink kaget sewaktu Pink menceritakan hal itu pada mereka.
“Preman itu ngajak lo tunangan?” tanya temen Pink yang cowok.
“Namanya Ruben! Bukan preman!” Pink protes.

Ketika sedang bersama Reigy dan ibunya, Renata melihat Faisal sedang bersama seorang wanita.

“Kenapa lo mau merit sama Jingga? Lu kan sukanya sama Pink,” tanya Robin pada Reza.
“Gue mau membahagiakan Jingga di saat2 terakhirnya,” kata Reza.
“jadi lu udah tau dia sakit? Lu tau dari mana?”
“Nggak penting gue tau dari mana. Jingga itu butuh dicintai.”

Faisal menurunkan Vera, pacarnya di tengah jalan karena wanita itu mengancam akan melaporkan perbuatan Faisal ke polisi. Faisal mengejarnya, tapi Vera berhasil bersembunyi di sebuah rumah kecil.

Pink dan Ruben bicara di rumah Pink. Sepertinya mereka sedang membahas rencana pertunangan mereka.
“Gue mau ngomong tapi gue harap jawaban lu memuaskan,” kata Ruben.
Saat itulah Jingga dan Reza muncul. Mereka snagat mesra. Jingga memeluk Reza.
Pink pura2 mesra juga dengan Ruben. Dia menyuapkan Ruben makanan.
“Manis, nggak?” tanya Pink imut.
“Hm...m...”
“Itu karena lu makannya sambil ngeliat gue, makanya manis...hehehe...”
“Hai!” sapa Reza.
“Eh, Za.” Pink pura2 baru melihat mereka.
“gue mau pulang dulu, ya.”
Begitu Reza sudah keluar, Ruben minta disuapin lagi. Tapi Pink malah menyodorkan makanan itu ke Ruben. Belum sempat Ruben mengambilnya, Pink langsung memakannya. Nyam!

Luna datang ke rumah Jingga. Dia minta uang tutup mulut. Tapi Jingga tidak mau ngasih.
“Gue akan bilang ke Reza kalau lu itu sakit sekarat dan mau mati,” ancam Luna.
“Bilang aja. Reza udah tau kok. Malah dia mau mempercepat pernikahan kami.”
Luna yang kesal segera pergi. Dia sempat bertubrukan dengan Pink.
“Kenapa tuh orang?” tanya Pink ke Jingga.
“Dia mau meres aku. Selama ini dia aku suruh tutup mulut.”

Faisal datang ke rumah Luna. Dia bilang dia mau bertanggung jawab atas kehamilan Luna. Mereka minum bersama atas ajakan Faisal. Tak lama Luna sakit perut dan pingsan. Ternyata Faisal sudah mencampurkan racun ke dalam minuman itu.

Di luar rumah, Ruben dan Robin mengintai dari dalam mobil.
“Katanya mau ke tempat Faisal? Ini sih rumahnya Reza,” kata Robin.
“Tapi Faisal sering ke sini,” kata Ruben.
Seseorang turun dari taksi.
“Itu...” tunjuk Ruben.
“Siapa? Faisal?” tanya Robin.
“Pink!”
Adik kakak itu langsung turun dan masuk ke dalam rumah tersebut.

“Luna!” Pink manggil2 Luna. Tapi yang ia lihat Luna sedang tergeletak di lantai.
“Pink!” Ruben masuk ke rumah itu dan memanggil Pink.
Mereka menemukan Pink bersama Luna yang sedang pingsan.
“Fa...Faisal...” Luna sempat menyebut nama itu.

Mereka membawa Luna ke rumah sakit.
“Luna sempat menyebut nama Faisal.”
“Mudah2an polisi nggak nyalahin lu,” kata Ruben.
“Kok gue? Emang tampang gue ada tampang penjahat? Imut gini,” Pink protes.
“Sedikit,” ledek Robin. “Lu ngapain ke sana?”
“Kakak gue diperes sama Luna. Gue mau ngelabrak dia.”
Dokter datang.
“Untung kalian cepat membawanya. Kami sudah berhasil mengeluarkan racunnya. Luna dan bayinya selamat.”
“Luna hamil?” tanya Pink, Ruben dan Robin kaget.

Luna sedang terbaring. Papanya ngomel.
“Dia kusuruh menghabiskan Reza, malah anakku yang dibuat begini.”
Mama Luna datang dan langsung memeluk anaknya.
“Mana janji kamu? Katanya mau menikahkan Reza dengan Jingga untuk menguras hartanya Hernawan,” kata Mama Luna pada suaminya.
Diam2 Pink mendengar pembicaraan itu. Dan dia sangat terkejut. Ternyata pernikahan itu bukan atas keinginan Reza.
Sementara Mama Luna digampar habis2an oleh suaminya.

Pink merenung di depan jendela.
“Gue kangen banget mau main harmonika gue. Tapi harmonika gue kan ilang,” gumamnya. Dia tidak tahu bahwa harmonikanya ada di tangan Robin.
“Pink!” tiba2 seseorang ada di belakangnya.
“Haaahh!” Pink kaget banget. Ternyata Reza.
“Mau ketemu Jingga? Dia kan lagi cek up sama papa mama,” kata Pink.
“Aku mau ketemu kamu, bukan Jingga,” kata Reza.
Pink sudah tidak tahan bertanya pada Reza.
“Za, lu harus jawab jujur. Lu cinta nggak sama Jingga?” tanya Pink.
“Apa lu mau jawab kalau gue bertanya apa lu cinta sama Ruben?”
Dan ternyata Pink nggak bisa jawab.
“Andai gue punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Yang gue cintai itu elo, Pink.”
“Gue juga cinta sama elo, Za,” kata Pink. Mereka pun berpelukan.
“Sebentar lagi lu bakal jadi kakak gue,” kata Pink.
“Dan sebentar lagi lu bakal jadi adik gue. Gue akan selalu menjaga kamu, Pink.”

Pink mendatangi Ruben. Saat itu Ruben sedang duduk di taman rumahnya.
“Ben,”
Ruben menoleh.
“Gue mau jadi tunangan lu,” kata Pink dengan ragu.
“Apa?”
“Gue mau jadi tunangan lu.”
Walaupun itu merupakan kabar gembira. Tapi raut wajah Pink tidak menyiratkan itu. Ruben tidak menyadarinya. Ia langsung memeluk Pink karena senang.

Mereka berdua berpapasan dengan Reza. Ruben langsung memberitahu kabar gembira itu.
“Sebentar lagi gue dan Pink akan tunangan.”
“Oh ya? Selamat, ya.” Wajah Reza terlihat senang sekali membuat Pink jadi heran.
“Za?”
Tapi Reza tidak peduli. Dia tampak berusaha menutupi kesedihannya.
“Kalian memang serasi.’

Papa Luna mengundang Faisal minum. Mirip seperti yang dilakukan Faisal pada anaknya. Faisal tau itu jebakan. Faisal minta tukar gelas. Papa Luna langsung menodongkan pistol. Ketika itulah beberapa polisi masuk dan segera menangkap mereka. Ternyata yang melaporkan adalah Vera.

Reza dan Jingga akhirnya menikah. Robin melihat mereka, matanya sembab.
“Gue rela lu menikah dengan Reza, asal lu bahagia. Karena sebenarnya gue cinta sama elu,” kata Robin dalam hati.

Bersambung...

*didedikasikan untuk pecinta sinetron Pink, seperti aku :). Sori ya kalau banyak yang kurang2...*

19 Agt 2006

PINK Episode 20

Episode 20


Pink berhasil menemukan Reza di sebuah rumah. Mereka berpelukan. Pink mengatakan bahwa dia percaya bukan Reza yang melakukan pencurian itu. Dan Pink memberitahu bahwa ibu kandung Reza mencarinya. Saat itulah Ruben datang.
“Gue nggak nyangka, Pink,” katanya.
“Maksud lo gue sama Reza?” kata Pink.
“Lebih dari itu. Lu membantu menyembunyikan Reza.”
“Pikir donk, Ben. Masa gue membantu menyembunyikan orang yang dituduh merampok uang bokap gue.”
Ceritanya Ruben nuduh Pink menyembunyikan Reza karena dia memergoki mereka berdua di rumah itu.
“Gue yang membantu Reza,” kata Imam, teman Reza.
“Gue difitnah,” kata Reza.
“Dan gue percaya kalau Reza tidak bersalah,” kata Pink. “Kita harus berbuat sesuatu untuk membersihkan nama baik lo.”
Ruben kayaknya jealous berat karena Pink mesra banget sama Reza sampe pegangan tangan segala. Kemudian Reza menanyakan siapakah ibu kandungnya.
“Henidar,” jawab Pink. “Dia adalah orang yang mau mengadopsi Reigy. Dia adalah ibu kandung lo.”

Ruben dan Pink berduaan.
“Kok sepi? Biasanya lo rame,” kata Ruben.
“Emangnya hajatan rame,” sahut Pink [lol][lol]
Dan itu bikin Ruben jadi senyum :):):):)
“Gue lagi cari cara untuk nolongin Reza,” kata Pink.
“Emang harus lo, ya?”
“Kalo bukan gue siapa lagi?”
“Yakin? Nggak ada pamrih lain?”
“Maksud lo?”
“Lu nolongin Reza karena...”
“Karena Jingga. Gue sayang banget sama Jingga. Dan Ji-ngga sayang banget sama Reza.”
Pink engga hanya cantik, tapi hatinya baik banget. Semua orang ditolong sama dia, kata Ruben dalam hati sambil memandang Pink [love2]

Orangtua Pink dan orangtua Ruben ketemuan.
“Maaf, kita harus bertemu di saat seperti ini,” kata papa Pink.
“Mudah2an suntikan dana dari kami bisa membantu kalian,” kata papa Ruben. Dia nggak dateng sama istrinya. Ternyata dia membantu keuangan keluarga Pink.
“Lagi pula Pink akan jadi calon menantu keluarga kami,” lanjut papa Ruben.
Pink dan Ruben yang juga ada di sana cuma mesem aja.

Ibu Ruben (Henidar) yang sedang sakit teringat dengan masa lalunya waktu Reza masih kecil dan Reigy masih bayi. Suaminya yang pemabuk membawa seorang wanita ke rumah dan ia mengusir Henidar beserta dua anaknya. Mereka pun pergi, kehujanan. Dan sampailah mereka di panti asuhan. Mereka tertidur di depan pintu. Kemudian Henidar meninggalkan mereka beserta sebuah surat. Beberapa waktu kemudian ia mendatangi panti itu lagi. Tapi dia cuma mengintip dari kejauhan. Dia melihat Reza dan Reigy. Dia berjanji pada dirinya akan menjemput anak2nya suatu hari nanti.

Pagi2, Renata menyiapkan sarapan buat Ruben dan Robin.
“Biasanya mama yang nyiapin sarapan,” kata Robin (atau Ruben?)
“Sebentar ya. Aku panggil mama,” kata Renata.
Dia mendatangi kamar ibunya, tapi ibunya sedang mengguyur dirinya dengan air pancuran di kamar mandi, seperti dulu. Renata panik. Dia berteriak memanggil Robin dan Ruben. Segera saja dua anak lelaki itu datang dan membopong ibu mereka.

Pink muncul di rumah Ruben.
“Kenapa?” tanyanya.
“Mama,” sahut Ruben.
“Bilang sama mama supaya enjoy sama hidupnya.”
“Itu elo,” Ruben nyindir Pink, tapi maksudnya becanda :). Terus dia cerita tentang papanya yang masih ngambek sama mamanya.
“Kemaren papa pergi nggak pulang semaleman.”
“Kasian. Persoalan orang tua emang susah. Tau gitu mending gue segini2 aja,” kata Pink. Maksudnya dia nggak mau jadi tua :)
“Dasar, lo.”
“Gue mau ketemu donk sama mama.”
Ruben mengantar Pink ke kamar ibunya.
“Mama sakit apa? Udah ke dokter?” tanya Pink.
Ibu Ruben tersenyum.
“Penyakit mama ini bukan dokter yang bisa nyembuhin,” katanya. Ternyata ia ingin sekali bertemu dengan dua anak kandungnya, Reza dan Reigy. Pink berkata akan berupaya membawa mereka.

Di tempat tinggal Reza, ibu panti membujuk Reza agar ia memaafkan perbuatan bundanya yang telah meninggalkan dia dan Reigy di panti asuhan. Tapi Reza keras kepala. Dia nggak mau maafin ibunya. Padahal Reigy mau.

Pink naik mobil bersama Ruben. Mereka sedang menuju kediaman Reza.
“Mudah2an dengan adanya Reza dan Reigy, bunda bisa bahagia,” kata Pink.
“Mudah2an,” sahut Ruben. “Gue akan coba bujuk bokap, demi lo.”
“Kok gue?” Pink heran.
“Elo kan sayang banget sama...”
“Engga...engga...” potong Pink cepet2. “Gue nggak sayang kok...”
“Lho, elo ngga sayang sama Jingga?” tanya Ruben. Dan itu bikin Pink jadi salting (salah tingkah ;))
“Oh, Jingga...eh...gue sayang banget sama dia.”
Dalam hati Pink mikir, gue kira Ruben mau bilang gue sayang sama Reza...[whistle]

Pink mengajak Reza untuk menemui bunda (ibu kandung Reza). Tapi Reza bersikeras nggak mau ikut. Akhirnya Reigy saja yang pergi bersama Pink dan Ruben. Reigy masuk kamar bundanya yang kala itu sedang tertidur. Dia membangunkan. Bundanya senang sekali melihat Reigy. Dia menanyakan Reza. Tapi dijawab oleh Reigy dengan bahasa isyarat kalau dia hanya sendiri.

Ruben menemui papanya di ruang kerja.
“Papa mau bantu Reza? Bukan dia yang mencuri aset Pak Hernawan.”
“Bagaimana ya. Reza anaknya mama sih.”
“Kalau namanya tidak segera dibersihkan, nanti dia susah cari kerja,” Ruben terus merayu. “Reza itu kan calon menantunya Pak Hernawan. Reza itu tunangannya Jingga. Jingga itu kakaknya Pink. Pink itu...”
“Kamu itu, ujung2nya Pink,” potong papanya :D:D:D
“Bantuin ya, pa.”

Pink menemui Reza. Dia terus membujuk Reza agar memaafkan ibu kandungnya karena pada saat itu bunda Reza juga dalam keadaan yang sulit.
“Bokap gue pemabuk. Ibu gue buang gue. Mendingan gue nggak usah dilahirin!” Reza marah sekali.
Tapi Pink akhirnya berhasil membujuk Reza.

Ruben mengejar Pink yang mau berangkat sekolah.
“Pink, kalau kamu ke tempat Reza, ajak2 donk,” kata Ruben.
“Tau dari mana lo kalau gue ke tempatnya Reza? Apa lo punya dukun? Atau lo anaknya peramal? Ahli nujum?” :D:D:p
“Gue kan pengen ketemu sama Reza.”
“Biasanya kalo ada Reza lo suka cemburu2 gitu,” sindir Pink.
“Enggak. Aku dan papa mau bantu membersihkan nama baik Reza.”
“Serius?”
“Iya. Tapi aku dan papa masih mikir bagaimana caranya. Jadi kapan ketemu Reza?”
“Ntar pulang sekolah.”
Diam2 dari jauh Ibu Nuri mendengarkan pembicaraan mereka.
“Reza?!”
Dia girang banget karena dia sendiri udah kangen sama Reza. Dan dia berencana akan mengikuti Pink dan Ruben pulang sekolah nanti.

Pink dan Ruben berada di restoran. Setelah pelayan mengantarkan pesanan mereka, Ruben menyendok es krim dan menyuapkannya ke Pink.
“Kayak film india aja pake suap2an,” kata Pink [lol][lol]
“Film hollywood juga ada yang suap2an,” bales Ruben.
Pink mikir sebentar.
“Penganten juga suap2an,” katanya ;););)
“Penganten? Lo mau jadi penganten?” tanya ruben :D:D:D:D
“Ngapain harus nuggu jadi penganten. Barusan aja ada yang nyuapin gue.”
Hap! Ruben langsung nyuapin Pink lagi supaya mulutnya diem [lol]
Diam2 Ibu Nuri membuntuti mereka. Dia menutupi wajahnya dengan majalah agar tidak ketahuan.
“Kok jadi ngintipin orang pacaran. Jangan2 mereka ketemu Reza bukan di sini.” [lol]

Henidar (ibu kandung Reza) mendatangi tempat tinggal Reza. Ternyata Reza mau memaafkannya. Papa, Ruben, Robin dan Renata menyusul ke sana juga.
“Saya tau dari anak2,” kata papa Ruben.
“Saya bersedia dicerai kok, mas,” kata mama Ruben. Bikin semuanya jadi kaget.
“Saya bersalah karena telah berbohong.”
“Papa tidak akan menceraikan mama. Mulai sekarang kita akan bangun keluarga besar kita dengan bahagia,” kata papa Ruben.
Semuanya lega.
“Ayo, kita pulang,” ajak papa Ruben.

Papa Luna minta tolong ke Faisal untuk menolongnya.

Reza nelpon Jingga. Jingga seneng banget. Suara Jingga kayak orang abis sakit tapi dia bilang ke Reza bahwa dia baik2 saja. Reza bicara pada papa Jingga. Beliau percaya bahwa bukan Reza yang mencuri asetnya.

Reza mendatangi kamar Robin. Tuh anak lagi duduk sambil semedi :D:D bukan ding, tapi lagi yoga.
“Za, lu harus memperhatikan Ji-ngga deh. Soalnya Jingga kan lagi...”
Tiba2 hp Robin bunyi.
“Bentar ya.”
Robin keluar.
“Hallo, Jingga.”
“Bin, lu jangan bilang kalo gue sakit. Gue nggak mau dibilang penyakitan.”
Pink denger Jingga menelpon. Begitu Jingga selesai nelpon, Pink bicara padanya.
“Lu nggak bisa gitu donk, Ngga,” kata Pink. “Dia kan calon suami lo. Dia harus tau keadaan lo yang sebenernya.”
“Nggak, Pink! Aku nggak mau Reza ninggalin aku.”

Luna mendatangi Jingga. Jingga juga meminta Luna tutup mulut tentang keadaannya pada Reza. Tapi Luna mengharapkan ‘balasan’. Jingga bilang Luna boleh minta apa aja yang dia mau. Luna pun bilang,
“Gue minta...”
Belum selesai ngomong tiba2 Luna mual2. Pas ditest ternyata dia hamil.

Pink lagi duduk di teras atas (kurang jelas deh itu di rumah Pink atau di rumah Ruben).
Reza muncul dari dalam.
“Setiap gue ngeliat lu dan Ruben, gue nggak suka,” kata Reza. “Gue sayang sama lu. Dan gue tau lu masih sayang sama gue.”
Pink terpana. Tanpa Reza tahu, Jingga mendengar perkataan itu dari dalam rumah.
“Kalau disuruh milih, lo bakalan pilih Ruben atau gue?”
Pink nggak bisa jawab. Jingga langsung lari menjauh.
Pink dan Reza mendengar suara langkah kaki itu.
“Jingga!” Pink lari masuk ke dalam diikuti Reza.
Jingga berdiri di pinggir tangga.
“Lebih baik gue mati!” jeritnya emosi *Jingga berlebihan banget deh* [boring]
“Lu apaan sih?” kata Pink. “Kalo Reza nggak cinta sama lo, dia nggak bakal ngelamar lo.”
Pink nggak tau kalau lamaran itu atas paksaan keluarga angkat Reza. Sekarang Reza udah bebas dari mereka. Jadi...
“Kalau lo nggak suka ngeliat gue sama Reza, gue akan kabur kalau ngeliat Reza,” ujar Pink sambil nangis [cry][cry]. Kata2nya lumayan panjang. Intinya dia rela berkorban apa aja demi Jingga. Baiknyaaaa...
“Gue sayang banget banget sama lo, Ngga,” kata Reza. “Sebentar lagi kita akan menikah.”
Setelah perdebatan itu, kayaknya Jingga nggak kuat. Dia hampir pingsan. Dia akan jatuh dari tangga kalau aja Ruben nggak buru2 muncul. Dia berhasil menahan tubuh Jingga. Reza langsung memeluk Jingga. Ruben memeluk Pink yang masih nangis :(. Tapi diam2, mata Pink dan Reza saling memandang.

Bersambung...


Kesukaan...

Siapa artis idolamu? Apa tv acara tv kesukaanmu? Apa musik favoritmu? Apa hobimu? Gue bukan lagi nanya biodata. Cuma sedang menelaah tentang favoritnya orang2 (apa pun itu. Artis, acara tv, musik). Klo jawabannya standar2 aja, oh artis fav-ku si A, si B, si C. Acara tv fav-ku ini itu. Musik fav-ku adalah blablabla, gue akan biasa aja kali ya. Kemungkinan fav mereka itu sama ma gue. Yah, yang sering muncul di tv, majalah dan internet itu bisa dengan mudah menjadi fav. Tapi di antara yang standar2 itu, gue pun bisa mengerutkan kening. Hah, nggak salah? Artis itu kan aneh/jelek/nggak ada apa2nya/biasa banget/nggak istimewa, kok bisa diidolain? Atau begini, gila ngapain menyukai sinetron jiplakan? Serial aslinya dari Korea/Jepang/Taiwan lebih bagus kaleee... Atau suka musik seperti itu ya? Gue udah coba dengerin, tapi kok masih belum konek ya? Nah, jadi jawaban2 yang umum pun akan membuat segelintir orang heran. Dengan sinis mereka bilang, oh suka sama itu ya? enggak banget deh. Itu masih yang dalam kategori standar. Bagaimana kalau mereka menyukai sesuatu yang sangat langka? (gue masih membicarakan artis, acara tv dan musik) mungkin kening gue akan lebih berkerut. Ada ya yang mengidolakan artis itu? Suka musik itu? Cuma itu pertanyaan gue, karena...speechless. Abis mau nanya apa lagi? Paling2 kok suka sama itu? Apa alasannya? Kalo engga bisa nanya ke orangnya, paling pertanyaan itu cuma bisa disimpan dalam hati.

Dan gue? Fav gue sebenernya masih dalam kategori standar. Tapi gue benci kalau ada orang yang menyindir (nyindir beneran, bukan becanda) atau menjelek2an kesukaan gue itu. Rasanya tuh orang pengen gue jitak. Tapi nggak bisa gitu. Paling gue cuma bisa melengos pergi. Agak egois ya? Suka nyela tapi nggak mau dicela. Hehehe...bad habit. Daripada repot mencela dan dicela, lebih baik gue sembunyi aja bila berkaitan dengan hal2 kesukaan gue itu. Apalagi bila berada di antara orang2 yang tidak menyukainya. Tapi nggak enak ngumpet2 terus. Harus ada pelampiasan. Di blogspot ini salah satunya. Bodo amat deh yang baca ngerti apa kagak.

Masih soal kesukaan (favorit), kayaknya di antara sekian banyak orang, lebih banyak yang mencela/menyindir daripada menghargai jika bertemu dengan perbedaan kesukaan. Gue juga begitu sih. Makanya selama ini gue selalu berkubang dengan orang2 yang punya persamaan kesukaan. Males deh debat2, bagusan ini bagusan itu (lagian inetnya ntar boros). Lebih baik tenang damai di satu areal.

Gue pernah nemu orang yang sangat menghargai perbedaan. Bahkan dia selalu mereply tanggapan, baik itu positif atau negatif. Ngeliatnya enak deh. Kapan gue bisa begitu? Baru nyadar kalo gue orangnya emosian dan sensi. Hehehe...jadi malu. Kalau semua orang kayak dia, bakalan asyik kali ya? Dan gue juga akan bisa menghargai perbedaan kesukaaan. Sebenernya gue bukannya nggak suka dengan artis, acara tv atau musik yang menurut gue jelek itu. Gue bisa aja menghargai semua itu asal si pengidola bisa menghargai yang lain. Tidak merasa kesukaannya itu yang paling bagus (freak) dan akhirnya menganggap remeh yang lain. Tapi justru itulah yang sering terjadi. Gue jadi nggak respek sama mereka dan malah makin membenci dengan kesukaan mereka.

16 Agt 2006

Tersenyum Kembali


Hihihi...gara2 Andi nyanyi lagunya Steven and Coconut Treez, gue jadi pengen nulis2 sedikit tentang penampilannya dia. Soalnya sampai hari ini gue masih terkesan dengan performance Andi waktu nyanyi lagu Tersenyum Kembali (SCT). Pertama dari pembagian lagu ya. Di diary kan tayangnya hari Rabu. Tapi kalau di sananya sendiri pembagian lagu itu hari Senin. Andi dapet lagu Ungu (Aku Bukan Pilihan Hatimu) dan lagu SCT (Tersenyum Kembali). Gue sebenernya ga yakin kalo dia tau tentang lagu itu. Tapi gue tau Andi pasti bisa. Dia kan udah beberapa kali dapat lagu yang baru2. Waktu gue denger di radio, lagu SCT itu sangat ear catchy. Asyik deh pokoknya. Padahal baru pertama kali denger.

Nah, pas konser AFI tanggal 13 Agustus 2006, gue ngerasa Andi nyanyiin lagu SCT oke banget. Penonton yang di depan aja pada goyang :p. Ihh...gue jadi suka deh sama lagu itu :-) *pengen cari mp3-nya nih*. Tapi pas bait2 belakang Andi nyanyinya agak flat aja. Mungkin karena lagunya panjang banget kali ye... *nah gitu donk kalo nyanyi, yang lengkap. Jangan baru mulai langsung selesai. Hihiihi...nyindir siapa tuh??? ;-)*. Tapi untuk ukuran entertain, Andi dengan lagu itu, sangaaaattt menghibur sekali. Bikin orang benar2 tersenyum :-). Paling Mbak Melly aja tuh yang bilang Andi nyanyinya terlalu rapih. Kayak baju baru disetrika. Hehehe...ada aja. Baru denger gue istilah kayak gitu. Biasanya komentator bilang, kamu nyanyinya berantakan, blablabla... Tapi ini lain. Kasus langka. Emang lagu SCT itu harusnya dibikin nakal ya. Hehehe...tapi jangan terlalu over.

Lagu Andi yang kedua juga oke. Lagu Ungu. Komentarnya juga bagus2. Malah dibilang paling bagus diantara penampilan Andi selama konser yang udah sepuluh kali itu *wow, sepuluh??? Ga terasa*. Btw, gue pengen banget mp3-nya Andi dari konser pertama (kalau perlu dari duel konser) sampe konser terbaru.

Tapi kok kayaknya nggak ada ya. Hiks hiks... :-(. Mesti cari dimana neeehh???

Tersenyum Kembali - Steven Coconut Treez

Am
Mendekatlah kau padaku tanpa bimbang

Dm G
Berilah senyummu yang telah lama hilang

C Am
Mendekatlah kau padaku tanpa bimbang

Dm G
Berilah senyummu yang hilang, yeah

C Am Dm G
(*) Ku tahu kau selalu ada di sini, saat kau tak mampu ‘tuk usir sepi

C Am Dm G
Ku tahu kau selalu ada di sini, saat kau tak mampu ‘tuk usir sepi


Interlude: C Am Dm G (2x)

C Em Am
Mungkin ada yang ingin kau ungkapkan

F C Dm G
Tentang yang terjadi dan menyiksa hati uuh...

C Em Dm
Karena kau terlihat tak seperti biasanya, yeah

F C Dm G
Penuh tawa canda dan selalu bahagia uuh…

C G C
(**) Tak seperti biasanya, kau tak seperti biasanya

G C G G A
Kau tak seperti biasanya yang selama ini kukira, yeah

C Dm G Em
Reff: Kuingin kau tersenyum kembali setelah apa yang kau alami

Am F G C Dm
Hilangkan benci dalam hati, kuingin kau tertawa kembali

G Em Am F G
Karena ku ‘kan selalu di sini, saat kau tak mampu usir sepi


Kembali ke: (*)


Interlude: C Am Dm G (2x)

C Em Am
Mungkin ada yang ingin kau ungkapkan

F C Dm G
Tentang yang terjadi dan menyiksa hati, uuh...


Kembali ke: (**), Reff

F Em Am Dm
Semua yang telah lalu, semua yang telah terjadi

G Em Am C Am
Ooh, lepaskan saja, lepaskan, bebaskan

Dm G
Ooh, bebaskan saja semua, kuingin kau jadi seperti yang ku tahu


Kembali ke: Reff


Coda: C Am F G (2x)


‘Pengen Jadi Bintang’ Episode 3

Pengen nulis lagi nih tentang sinetron ‘Pengen jadi Bintang’. Kemaren sampe mana ya? oya, pas Riki mau operasi ginjal? Apa yang terjadi selanjutnya?

Dika teriak2 dari luar. Tapi Riki minta dokternya supaya terus melakukan operasi. Dokternya ga mau. Mereka berdua keluar. Dika dan Riki sempat debat gitu deh. Setelah ngomong2 blablabla *sori dialognya lupa* :p, Dika ngedipin mata ke Riki. Tring! Hehehe...bisa aja. Lalu mereka kabur dari sana. Sempet dikejar2 sampe mereka nubruk tiang *huahahaha!* :p

Di bawah pohon, Dika mengatakan lebih baik dia dikirim ke Arab daripada Riki mati. Riki melihat sebuah spanduk di atas jalanan. Ada kompetisi rockstar! Mereka pengen banget ikutan. Tapi untuk daftar harus pake biaya. Kecuali jika mereka cacat, maka biaya akan gratis. Maka Dika dan Riki pura2 buta. Pas pendaftaran...hehehe...kocak aja. Sampe nabrak2 orang yang lagi ngantri...hehehe.

Waktu mau berangkat, ibu tiri Dika mau memberikan minuman yang telah dicampur sesuatu dan akan mengakibatkan suara Dika hilang. Tapi sayangnya Dika mendengar kata2 ibunya itu. Mereka berdebat. Ternyata ibu tiri Dika tidak suka dengan Dika lantaran dia mengingatkannya pada ibu kandung Dika.

Riki pun mengalami hambatan yang sama. Ayahnya yang pemabuk nggak suka kalau Riki jadi pemusik. Dia memukul Riki. Tapi dengan mudah ia rubuh setelah Riki menedang ‘anunya’. Katanya tidak akan ada yang bisa menghalangi dia untuk ikut kompetisi rockstar.

Di tengah jalan, Dika dihadang tiga orang preman. Mereka memukuli Dika. Tapi Riki datang *horeeee!!!*. Eh, gantian Riki yang dipukuli. Dika agak tersungkur sampe ke warung di dekat situ. Dia liat gunting. Langsung dia ambil terus buat gunting celana salah satu preman. Celananya robek, deh *hahahha!*. Premannya lengah. Mereka ketawa2. Riki ikutan. Dia ngambil gunting dari tangan Dika dan langsung menggunting celana preman yang dua lagi *hahaha, lagi!*. Dengan begitu mereka pun bisa lari.

Tapi di tempat kompetisi saat Dika dan Riki sedang nyanyi, ternyata Bella ingat bahwa dua orang itu pernah menipunya dulu. Bella mengusir mereka dari panggung. Kasus itu sampai masuk koran. Ayah Dika marah2 setelah mengetahui hal itu. Dia memukul Dika. Tapi orangtua itu kena batunya. Saat dia menendang bakaran sampah yang masih menyala, api mengenai tumpahan minyak dan api menyambar dirinya. Ayah Dika mengalami luka bakar dan perlu perawatan khusus. Dari sanalah Dika memutuskan untuk pergi ke Arab untuk jadi TKI.

Malamnya Dika bicara pada Riki tentang niatnya itu. Berat memang, tapi akhirnya Riki menyetujui juga. Untuk yang terakhir kalinya mereka bernyanyi. Lagu mereka kebetulan didengar Bella yang sedang lewat di dekat sana. Ketika Bella bertanya pada tiga orang yang sedang nongkrong, eh dia malah digodain. Sampe dikejar2. Untung ada Riki dan Dika *fiuuh...*. Waktu Riki memukul preman itu, tak sengaja Bella terpukul oleh si preman dan mengakibatkan Bella pingsan. Ketika Dika hendak menolong Bella dengan mengantarkan gadis itu, Riki ngga mau. Soalnya dia masih dendam. Gara2 Bella mereka batal ikut kompetisi. Akhirnya Dika mengangkat Bella sendirian *berat, bo! :p*, Riki tidak mau membantu *hahaha! Berapa kali ya gue ketawa? :p*

Tidak ada scene lanjutan mengenai pertolongan Dika pada Bella. Yang ada adegan Dika mau berangkat ke Arab. Dia bawa tas. Riki membantu membawakan satu tasnya. Mereka sempat dicegat oleh ibu2 yang warungnya sering diutangin sama Riki dan Dika *hihihi...*. Ibu pemilik warung itu menagih hutang. Dika bilang Riki yang akan bayar. Tapi Riki bilang Dika yang akan bayar *hahaha...ya ampun gue ketawa mulu :p*. Tapi ternyata ibu itu cuma ngerjain ;-). Dia membawa Riki dan Dika ke suatu tempat. Di sana berkumpul teman2 mereka. Mulai dari yang muda sampe yang tua. Nyanyi2 deh. Begitu selesai mereka malah sedih2an karena Dika mau pergi :-(.

Sedikit catatan:

1. Scene2nya kocaknya nggak pasaran, lucu banget. Pas nubruk tiang di depan rumah sakit. Pas pura2 buta. Waktu menggunting celana preman. Face Riki yang ogah bantuin Dika yang lagi ngangkat Bella. Sampe capek gue ber-hahaha...

2. Adegan gunting celana yang dilakukan Riki dan Dika pada preman2 sangat unik. Tapi adegan itu terulang oleh Bella yang memergoki pacarnya dengan wanita lain. Dia menggunting baju pacarnya dan cewek selingkuhannya dengan gunting *duh, kok sama sih?????*. Gregetnya malah jadi ilang.

3. Ibu tiri Dika mau ngasih obat di minuman supaya suara Dika hilang. Ide bagus. Selama ini obat yang paling ‘populer’ cuma obat tidur. Benar2 langka nih ;-)

4. Masih soal ‘ibu tiri dan minuman’, Dika mendengar perkataan ibunya sehingga dia bisa menghindari halangan tersebut. Di sinetron lain, tokohnya nggak bakal tau kalau minumannya diracuni. Biasanya yang terjadi adalah, alternatif 1: si tokoh akan meminum kemudian pingsan. Alternatif kedua: si tokoh hendak minum, kemudian ada sesuatu yang membuat dia nggak meminumnya. Tapi di sinetron PJB lain. Si tokoh langsung tau ibu tirinya mau memberikan minuman beracun. Dia berdebat2 dikit kemudian langsung pergi untuk melaksanakan niatnya *ngapain juga pake diundur2, ditunda2, diperpanjang...ya nggak?? Mending to the point aja ;-)*

5. Jarang2 ada tokoh yang langsung kena batunya ketika dia sedang jahat. Contoh: ketika ayahnya Dika memukul Dika, dia terkena api dan terbakar. Sumpe deh, ini scene yang sangat jarang.

13 Agt 2006

Sinetron ‘Pengen Jadi Bintang’ SCTV


Sejak hari selasa dua minggu yang lalu, ada sinetron bagus di sctv. Judulnya ‘Pengen Jadi Bintang’. Ceritanya unik. Sampai dua episode sih masih oke. Nggak tau deh kalau nanti. Karena lumayan suka, jadi gue tulis ceritanya buat kenang-kenangan :p. Tapi gue tulis bagian yang gue suka aja. Scene yang ga penting, ga usah lah yaa ;-). Pemainnya utamanya kebetulan gue demen tuh :p. Vicky Nitinegoro dan Dwi Andika. Hehehe. Oke, kita mulai ya...

Dua pemuda miskin, Riki (Vicky Nitinegoro) dan Dika (Dwi Andika), hobi banget main musik. Mereka pengen banget jadi bintang (sesuai dengan judulnya). Tapi hobi mereka itu tidak didukung oleh keluarga mereka, terutama Dika. Orang tuanya malah nyuruh dia jadi TKI.

Waktu Riki dan Dika lagi ngamen di jalan, lagu mereka dicuri oleh seorang penyanyi, Mike. Dan akhirnya di-klaim sebagai lagu ciptaan Mike. Riki dan Dika tidak terima. Mereka mendatangi rumah Mike untuk melabrak. Tapi malah mereka berdua yang dilaporkan ke polisi. Ayah Dika marah sekali. Akhirnya beliau menyuruh Dika jadi satpam. Di tempat Dika bertugas (sepertinya hotel), ia bertemu dengan Mike. Penyanyi yang sombong itu rupanya masih dendam pada Dika. Ia menginjak-injak harga diri Dika dengan menyuruhnya membersihkan kamar mandi.

Dika menangis di sebuah makam (kayaknya makam ibu kandungnya). Riki datang dan menghiburnya. Ia berjanji akan menjaga Dika. Karena Dika sudah dianggap seperti adiknya sendiri (so touchy. Bener deh, gue aja sampe terharu).

Masalah belum selesai. Dika melihat ibu tirinya sedang bermesraan dengan orang lain. Karena ibu tirinya takut dia akan mengadu. Maka ia memfitnah Dika, sehingga ia dipukuli habis-habisan oleh ayahnya. Adik tiri Dika memberitahu Riki. Dengan segera Riki datang dan menolong Dika. Ia pun sempat ditendang oleh ayah Dika karena berusaha menghalanginya (hiks, hiks. Ini scene yang so sweet juga).

Ayah Dika mengajak Dika ke sebuah tempat. Ternyata ia dijual sebagai TKI. Ayahnya menerima pembayaran yang lumayan besar. Dika menceritakan hal itu pada Riki. Tentu saja Riki tidak akan tinggal diam. Ia tidak rela jika Dika harus pergi jadi TKI. Apalagi harus meninggalkan hobi bermusik mereka.

Mereka mendatangi tempat agen TKI itu. Ternyata untuk membatalkan, mereka harus memberi uang ganti ditambah bunga lima puluh persen. Mereka pun bingung harus cari uang kemana. Pinjam sana sini nggak ada yang kasih. Sampai-sampai Riki bohong lagi dengan mengatakan Dika sakit kanker. Dika yang kaget langsung pura-pura lemes supaya dikira sakit beneran (huahaha!). Tapi orang yang dimintai pinjaman itu nggak percaya lantaran mereka udah sering banget bohong. Lagian hutang mereka yang dulu-dulu juga belum dibayar.

Malam harinya ada pencuri masuk ke rumah Dika. Pencuri itu mencuri uang dan menusuk ayah Dika. Dika teringat pada Riki. Ia menyangka Riki-lah si pencuri itu. Ia langsung melabrak dan memarahi Riki. Bahkan ia tidak mau berteman dengan Riki (aduh, sedih). Riki jadi bingung. Ia memang mau menolong Dika. Tapi tuduhan Dika sepertinya salah alamat. Tanpa sempat bertanya lebih lanjut, Dika keburu meninggalkannya.

Dari pembicaraan orang tuanya, akhirnya Dika tahu bahwa yang menusuk ayahnya bukan Riki, melainkan orang dari kampung sebelah. Dika langsung mencari Riki untuk minta maaf. Di rumah Riki, ia bertemu dengan ayah Riki yang seorang pemabuk. Ia mengatakan Riki sudah pergi. Dia ngomel-ngomel pada Dika. Karena kerjaan mereka cuma ngamen-ngamen nggak jelas. Lalu ia menunjukkan koran yang tadi dilihat terus oleh Riki. Dika pergi ke tempat lain. Seorang laki-laki memberi tahu bahwa setelah menerima telepon dari rumah sakit, Riki langsung pergi. Ia memberikan nomor telepon rumah sakit itu. Dika mencocokkan nomor telepon itu dengan iklan-iklan di koran. Ternyata itu adalah nomor telepon dalam iklan donor ginjal! Dika langsung kaget. Jangan-jangan Riki mau mendonorkan ginjalnya.

Dika berlari-lari mendatangi rumah sakit. Riki sudah berada di sana. Ia berpesan, jika terjadi sesuatu padanya diharap dokter akan menyerahkan uang pada seseorang yang ia akui sebagai adiknya. Ia memperlihatkan foto Dika.

Ketika Riki hendak masuk ruang operasi, ia masih sempat mengancam dokter agar tidak melupakan pesannya (huahaha...kocak abis Vicky ini :p). Dika sudah sampai di rumah sakit ketika Riki hendak dioperasi. Riki mendengar suara Dika, tapi ia meminta dokter untuk segera melakukan operasi. Sementara di luar, Dika ditahan oleh beberapa orang agar tidak masuk ke ruang operasi.

Pendapatku:
1. Temanya bagus, beda dari yang lain. Tidak bertele-tele. Ada scene kocaknya juga, jadi nggak garing.
2. Di sinetron ini banyak adegan Riki dan Dika nyanyi. Tapi aslinya mereka lipsync. Kenapa nggak nyanyi sendiri? Kan bisa lebih seru tuh. Lagian setau gue Andika udah rekaman. Vicky, gue nggak pernah liat dia nyanyi (gue liatnya waktu jadi pendamping Intan Nuraini waktu Intan nyanyi TTM di Ceriwis :p). Tapi di tv, gue pernah liat dia nge-jam bareng Eno Netral. Vicky main gitar (atau bas, ya? nggak tau). Keren lho! Tapi kalau lipsync-nya mereka karena kendala teknis, ya gpp deh. Tapi agak aneh aja, karena suaranya beda ;-)
3. Penampilan Riki (Vicky) udah lumayan dekil pake baju yang sobek-sobek. Tapi kadang make up-nya terlalu tebel. Sedangkan Dika (Andika) kadang bajunya kebagusan (emang ga boleh ya gembel pake baju bagus? :p). Di sinetron ini kan mereka berperan jadi orang yang miskin, bukan model. Jadi agak kurang down to earth gitu...
4. Gue nggak suka sama pemeran utama ceweknya. Bosen liatnya, tau deh kenapa. Rada eneg aja ;-). Sori ini pendapat yang sangat pribadi.
5. Kalau ke depan ceritanya jadi kacau (seperti sinetron-sinetron lain) gue nggak mau nonton lagi ;-)

*dilarang copy paste

PINK Episode 19

Pink Episode 19

Pink beserta kedua orangtuanya berada di rumah sakit.
“Sebenarnya Jingga sakit apa, Dok?” tanya papa Pink tanpa didengar oleh yang lainnya.
Dokternya agak ragu2. Tapi akhirnya dia bilang juga.
“Leukimia.”
Setelah dokternya pergi, Jingga bertanya
“Pa, Jingga sakit apa? Kenapa Reza nggak datang?”
Papanya bingung untuk menjawab.
Pink merenung sebentar

Kemudian ia pergi dari sana. Malam2 di jalan kosong dia menangis. Begitu banyak masalah yang tengah ia had
api. Jingga sakit. Reza pergi. Aset perusahaan ayahnya ludes dicuri orang.

Besoknya dia sekolah, Pink tetap murung. Dia duduk di bangku, sendirian. Ruben melihatnya dan langsung menghampiri.
“Pink.” Ruben duduk di sebelah Pink.
Ruben menggenggam tangan Pink. Tapi Pink langsung menepisnya.
“Gue lagi nggak mau berantem,” katanya.
“Siapa yang ngajak berantem? Orang gue mau ngajak sayang2an :p. Lu kenapa, sih?”
“Kakak gue sakit. Leukimia parah.” Pink sedih sekali. “Reza menghilang. Padahal kakak gue pengen banget ketemu dia. Walaupun Jingga suka jutek ke gue, tapi gue sayang banget sama dia.”
Pink menangis. Ruben menenangkan dengan membelai2 rambut Pink. Lalu Pink menangis di bahu Ruben (cie...cie... ceritanya shoulder to cry on, nih ;))

Papa Reza dan Luna datang ke rumah sakit. Dia mengatakan bahwa Reza cuma anak angkat. Orang tua Jingga terkejut, begitu pula dengan Jingga yang tak sengaja mendengar hal itu. Dan dengan sengaja papa angkat Reza bilang bahwa Reza kabur dengan mancuri aset perusahaan papa Jingga. Padahal orangtua Jingga sudah berusaha menutupi kasus itu dari Jingga. Jingga pingsan mendengarnya. Jingga yang shock jadi sebal dengan Reza. Tapi Pink meyakinkan bahwa Reza tidak seburuk itu.

Robin dan Ruben yang berada di rumah sakit itu, membicarakan tentang kaburnya Reza. Robin, yang dulu berteman dengan Reza mengatakan bahwa Reza orang yang baik. Ruben rada cemburu karena Pink mikirin
Reza melulu.

Dari jauh papa angkat Reza melihat Robin dan Ruben, dan dia tersenyum. Di rumah, dia bicara pada Luna.
“Kamu lihat kan dua anak laki2 yang ada di rumah sakit. Kata Hernawan (papa Pink) mereka anak konglomerat. Kamu harus deketin mereka untuk menyelamatkan keuangan keluarga kita.”
Luna sih oke2 aja.
“Kira2 Luna harus deketin yang mana, pa?’
“Terserah kamu.”

Di sekolah, ibu Nuri menunjukkan sebuah koran pada Pink. Ada berita tentang Reza.
Ya, ampun. Sampe masuk koran segala, batin Pink.
“Apa bener Reza melakukan itu, Pink?” tanya ibu Nuri.
“Ibu percaya?”

Pink pulang sekolah. Ruben mengejarnya.
“Lu nggak ke rumah sakit?” tanya Ruben.
“Gue mau ke tempat lain dulu.”
Setelah Pink meninggalkannya, Robin menelpon. Tampaknya Ruben diminta ke rumah sakit.

Robin bermaksud baik memperhatikan Jingga. Dia mau nyuapin Jingga supaya Jingga cepet smebuh. Tapi
Jingga, yang masih kepikiran dengan Reza, malah jutekin dia. Mereka pun berantem. Robin yang sedang kesal malah dideketin Luna.

Ruben datang ke rumah sakit. Ia duduk di sebelah Robin. Belum sempat mereka bicara, Robin melihat kehadiran Luna.
“Yah, dia lagi,” gerutunya. Robin pun kabur :D. Ruben heran.
Tapi Luna tetap berada di sana. Dia menggeser duduknya ke sebelah Ruben dan mencoba mendekatinya. Ruben risih.
“Lu bisa ke sana nggak? Di sana kan lega,” kata Ruben sambil menunjuk bangku kosong di sebelah Luna.
“Enggak. Kenapa?”
“Gerah, tau!” Ruben mengibas2kan baju sekolahnya. Kayak orang kepanasan :p
Ruben menggeser duduknya. Eh, Luna ngikutin. Ruben yang sebal akhirnya kaburrrr...:D

Pink pergi ke panti asuhan Reigy. Ibu panti memberikan alamat Imam, teman Reza. Pink pun langsung mencari alamat itu. Dia bertemu dengan seseorang dan bertanya,
“Bang, tau alamat ini nggak?”
Laki2 itu memperhatikan alamat yang diperlihatkan Pink.
“Saya mau ketemu Bang Imam,” kata Pink. “Abang bisa anterin saya?”
Laki2 itu mengangguk. Kayaknya laki2 itu tukang ojek.
Pink dibawa naik motor. Mereka berhenti di sebuah kebun.
Pink turun.
“Kok kita ke sini sih?” Pink protes.
“Kamu siapa? Ngapain cari2 saya dan Reza? Kamu orang suruhannya dokter Rio? Atau Luna?” laki2 itu judes banget.
“Jadi abang ini abang Imam?” akhirnya Pink tau orang yang dia cari ada di depannya.
“Kamu siapa?”
“Pink.”
“Oh, Pink.” Tiba2 raut wajah Imam jadi baik. “Reza sering cerita tentang kamu.”
“Abang tau Reza dimana?”
“Saya nggak tau. Sudah lama saya nggak ketemu dia.”
Tapi Pink nggak percaya.

Robin minta maaf ke Jingga atas sikapnya tadi.

R
uben sedang makan sendirian di kantin rumah sakit. Tiba-tiba Luna datang. Ruben langsung cemberut.
“Nggak ada tempat lain, ya?”
“Emang ada yang ngelarang kalau gue duduk di sini?” Luna balik nanya.
Ruben bete. Luna melihat Pink datang. Luna langsung deketin Ruben.
“Katanya lu jago main bilyar ya?” Luna nanya2 sok akrab.
Melihat Luna ada di sebelah Ruben, Pink mengambil duduk di antara mereka berdua dan langsung nyerocos panjang lebar.
“Eh, denger2 ada yang mau main bilyar, nih. Kok nggak ngajak2 gue sih? Ben, kita kan udah lama nggak main bilyar. Sekalian aja ajak temen2. Mumpung dibayarin.” ;);)
Ruben sih senyum2 aja.














Luna langsung pasang muka kecut.
“Telpon, Ben,” kata Pink. Saat Ruben mau mengambil handphone-nya, Luna pun pergi.
“Eh, mbak, main bilyarnya nggak jadi?!” seru Pink. Luna pasti dongkol berat :p
Pink dan Ruben tertawa. Untuk sesaat kamera mengarah ke Ruben. Sepertinya dia seneng karena Pink berhasil membuat Luna pergi. Atau karena emang Pink nggak rela Ruben dideketin sama Luna? ;)

Di rumah, Papa Mama Pink lagi ngomongin penyakit Jingga. Dan mereka sempat menyinggung tentang donor sumsum buat Jingga. Walaupun sebenarnya sudah agak terlambat. Pink yang mendengarnya, langsung menawarkan diri untuk jadi donor buat Jingga (baik hati banget ya :))

Luna pergi ke tempat Faisal. Faisal lagi seneng banget karena bisa mencuri aset perusahaan bosnya. Dan bosnya malah menuduh calon menantunya yang mencuri aset itu. Faisal memberi tahu bahwa nama bosnya adalah Hernawan dan yang dituduh bernama Reza. Luna kaget.

Pink didorong dengan kursi roda oleh seorang suster.
“Pink, kamu nggak apa2?” tanya Ruben. Tampaknya dia khawatir sekali.
“Nggak apa2. Cuma tadi pas prosesnya sakit banget.”
Ternyata Pink baru periksa sumsum tulang belakang. Apakah cocok dengan Jingga atau tidak.
“Mudah2an cocok,” kata Pink.
“Iya, mudah2an cocok,” sahut Ruben.
Teman2 Pink dan Ruben datang. Rame banget.
“Pink, kok lo nggak bilang ke kita2?” serbu mereka.
“Sori guys, abis mendadak banget.”

Pink datang ke panti asuhan Reigy. Ternyata di sana ada ibunya Ruben sedang bicara dengan ibu panti.
“Maaf, saya tinggal dulu,” ibu panti pamit masuk ke dalam.
Pink melihat sesuatu di meja. Dia mengambilnya.
“Lho, ini kan foto Reza.”
Itu foto yang dimiliki ibu Ruben. Foto dia, Reza kecil dan Reigy yang masih bayi.
Ibu Ruben sedih.
“Reza dan Reigy sebenarnya mereka...a..anak mama.”
Pink kaget.
Ibu Ruben menceritakan bahwa dulu dia terpaksa meninggalkan dua anaknya di panti. Tanpa dia tahu Renata mendengar, begitu juga papa Ruben.

Di rumah, Papa Ruben memarahi istrinya karena sudah membohonginya selama bertahun2. Dia menyangka istrinya adalah orang yang baik. Tapi dengan tega meninggalkan dua anaknya di panti. Saat makan malam, papa Ruben masih ngambek. Dia nyuekin mama Ruben, tapi tiga anaknya malah sibuk godain :p.
“Ayo, dimakan sayurnya,” kata papa Ruben pada anak2nya.
“Pa, kok mama nggak ditawarin?” kata Robin jail ;);)
Papa Ruben dan tiga anaknya bicara dekat kolam renang. Mereka membujuk papa untuk memaafkan mama.
“Pa, maafin mama ya,” kata Renata.
“Dulu waktu mama belum ada keluarga kita tercerai berai. Tapi begitu mama ada, keluarga kita menjadi keluarga yang utuh,” kata Robin.
Papa Ruben sepertinya masih bimbang.

Bersama teman2nya, Pink memperhatikan gerak gerik Imam dari kejauhan. Mereka berniat mencari tahu keberadaan Reza.

12 Agt 2006

PINK Episode 18

Pink Episode 18

“Ben, Ben, Reigy dalam bahaya!” seru Pink lewat handphone.
“Pink! Pink!” Ruben memanggil Pink. Tapi Pink tidak mendengar. Ia sudah keburu lari ke dalam taman.
Mama Ruben bertanya ada apa. Dan beliau kaget waktu Ruben menyebut nama Reigy. Keberangkatan mereka ke rumah orang tua Pink terpaksa dibatalkan karena Ruben menunggu kabar dari Pink.

Sementara di tempat lain, Pink dan Reigy disekap di sebuah gudang. Mulut mereka ditutup dan tangannya diikat. Sewaktu diberi makanan, Pink mengambil kesempatan untuk mengeluarkan handphone dan menghubungi nomor Ruben. Dia bicara keras2 dan menyebutkan sebuah alamat.
Ruben tidak mengerti. Robin yang ikut mendengar langsung berkata bahwa Pink sedang memberitahukan keberadaan dia sekarang. Ruben segera menghubungi Karel dan Jono untuk membantunya.

Reigy pura2 pingsan setelah Pink memberi kode. Pink ngomel2 dan menyuruh mereka membawa Reigy ke rumah sakit. Diam2 Pink melepaskan ikatan tangannya. Pink sempat memukul seorang penjahat yang menjaga pintu.
“Jangan mati, ya.” Pink rada takut juga.
Sewaktu penjahatnya kalang kabut, Pink menyuruh Reigy agar segera lari.
Reigy berhasil keluar dari sana. Tapi malah Pink yang dikejar2.
Di depan Reigy bertemu dengan Ruben yang baru tiba.
“Reigy, kakak Pink mana?”
Reigy menunjuk ke arah dalam. Bersama Karel dan Jono, mereka segera mencari Pink.
Tepat saat Pink sedang dikepung oleh para penjahat, Ruben datang dan melawan mereka. Para penjahatnya pun segera kabur.
“Terima kasih, ya.”
Dengan malu2 Pink memeluk Ruben. Tapi setelah itu dia melepaskan pelukannya dan langsung ngomel2.
“Kenapa datengnya lama banget? Gue kan takut...”
Ruben segera menarik Pink ke dalam pelukannya. Tapi mulut Pink terus nyerocos :p
“Gara2 dia nih.” Ruben malah nyalahin Jono.
“Eh, kok gue?”
“Iya, nih. Gara2 elu.” Pink ikut2an nyalahin Jono.
Karel ngetawain.
“Eh, elu juga!” Karel kena semprot Pink.

Pink dan Ruben mengantar Reigy ke panti. Tiba2 Reza datang dan Reigy langsung memeluknya. Mulanya Pink mengira Reza adalah ayah Reigy. Setelah dijelaskan dengan bahasa isyarat oleh Reigy, barulah Pink mengerti kalau mereka kakak beradik.

Pink kembali ke rumahnya. Hari sudah pagi. Ternyata orangtuanya sedang menyiapkan uang sekoper untuk menebus Pink yang katanya sedang diculik.
“Pink!” papanya memanggil karena dengan santainya ia masuk.
“Kenapa? Kok kayak ngeliat setan?”
Pink mendekati mereka.
“Kita mau beli pulau, ya?” tanya Pink begitu dia melihat uang yang banyak sekali.
“Uang ini menebus kamu. Penculiknya minta tebusan 5 M.”
“Gila, harga gue mahal juga, ya. Jadi papa mama mau menebus Pink dengan uang ini?”
Pink memeluk papa mamanya.
“Terharu, terharu. Terharu, terharu,” katanya.
“Ma, kita beli rumah baru aja.”

Keluarga Ruben berniat mengadopsi Reigy. Mereka mendatangi panti asuhan. Mama Ruben heran karena ternyata Ruben sudah mengenal Reigy. Awalnya Robin dan Renata keberatan karena Reigy bisu. Tapi mamanya meyakinkan mereka Reigy berhak dapat keluarga.
“Reigy akan beruntung karena punya mama yang baik.”
“Dan kakak cowok yang ganteng,” kata Robin :p

Di sekolah, Ruben memberitahukan kabar itu pada Pink. tapi Pink nggak percaya. Dia sempat memeriksa dahi Ruben. Jangan2 Ruben lagi sakit.
“Gue serius, Pink.”
“Serius? Tapi kok bisa?”
“Ya bisa lah.”
“Elu kan nggak suka sama Reza.”
“Reza bisa punya keluarga angkat, kenapa Reigy enggak.”

Reza mendatangi panti asuhan. Dan dia nggak setuju kalau Reigy diadopsi.

Pink dan Ruben duduk berdua di taman. Dia tidak menyangka keluarga Ruben mau mengangkat Reigy jadi anak. Ruben juga senang karena Pink mau mengakui dirinya sebagai pahlawan di hadapan Reza.
“Yee...siapa.” Pink tidak terima.
“Jangan gengsi deh, Pink,” goda Ruben. Mereka bersenda gurau.
Kemudian Pink lari, Ruben mengejar. Setelah Ruben berhasil meraih Pink, ia pun memeluknya dari belakang.

Ruben tiduran di pangkuan Pink sambil bercerita tentang mamanya yang ternyata mama tiri. Sementara Pink meringis. Kakinya kesemutan.
“Berat...” keluhnya.
“Pertama2 memang berat waktu papa mau menikah lagi,” sahut Ruben. “Tapi ternyata mama baik sekali.”
“Berat, nih.”
Ruben pun sadar. Ia bangkit.
“Jadi dari tadi nggak dengerin gue, ya?”
“Emang gue budeg apa? Dengerin lah.”
“Bukannya iya.” Ruben senyum2.
“Berarti Reigy beruntung dong punya mama seperti mama kamu.”
“Pink, aku foto, ya,” kata Ruben. “Mama adalah orang pertama yang mendukung aku menjadi fotografer profesional.”
Ruben siap2 memfoto.
“Kalau begitu aku orang kedua yang dukung lo jadi fotografer,” kata Pink.
Ruben tersenyum. Ia memfoto Pink. Gaya pertama Pink manis sekali. Yang kedua udah mulai konyol.
“Kita foto berdua, ya,” kata Ruben.
Ia meletakkan kameranya di atas sepatu. Membuat Pink bengong. Lalu mereka pun pasang aksi. Foto berdua.

Di rumah, Jingga melihat foto2 itu. Ia memperlihatkan pada Reza.
“Mereka serasi, ya. Sama2 gila.”
Sementara Reza malah termenung. Ia menganggap Pink telah melupakannya.
Tiba2 Pink masuk diikuti Ruben. Ia terdiam melihat mereka berdua. Lalu ia membalik langkahnya. Ruben mengejar.
“Pink.”
Pink duduk di teras rumahnya. Ruben duduk di sebelahnya.
“Pink, gue cuma mau kasih tau kalau gue bener2 sayang sama lo.”
“Gombal.”
“Serius. Meskipun lu suka jutek dan marah2. Tapi gue sayang banget sama lo.”
Pink tersenyum.

Reza dan Jingga pergi menemui klien. Tapi di tengah jalan Reza turun. Ia pergi ke panti asuhan dan membawa Reigy pergi. Sementara papa Pink terkejut karena ia semua kehilangan aset perusahaaannya.

8 Agt 2006

PINK Episode 17

Episode 17

Ibu Ruben datang ke panti asuhan tempat dimana Reigy berada. Sebelum turun dari mobil, ia sempat memandang foto tua. Gambar seorang wanita (kayaknya gambar dia sendiri) beserta seorang anak laki2 dan seorang bayi. Begitu sudah di dalam ruangan, dari jendela, ia melihat Reigy yang sedang bermain bersama anak2 lain. Ibu panti menjelaskan bahwa dulu Reigy dan kakaknya ditaruh begitu saja di depan panti. Hanya ditinggalkan surat berisi keterangan nama mereka. Ketika sedang berbicara dengan ibu panti, Reigy datang. Ibu Ruben tiba2 menjadi sedih. Reigy bertanya dengan bahasa isyarat, kenapa ibu itu sedih.
“Dia bisu?” tanya ibu Ruben.
“Waktu kecil, Reigy sak
it panas, saya tidak bisa membawanya ke rumah sakit karena tidak ada biaya. Sejak saat itu dia tidak bisa bicara. Kakaknya, Reza, diangkat anak oleh orang kaya. Tapi mereka tidak mau mengangkat Reigy,” kata ibu panti.
“Karena dia bisu?”
Pertanyaan ibu Ruben itu diiyakan oleh ibu panti.

Ibu Ruben pulang ke rumah dan langsung disambut oleh Renata, Robin dan papa Ruben.
“Mama dari mana? Kok pergi sendirian. Seharusnya ajak pengawal papa,” kata papa Ruben.
“Ah, mama cuma jalan2 sekitar sini,” kata ibu Ruben dengan lembut.
Btw, Ruben kemana? ;)

Ternyata Ruben mengantar Pink sampai ke rumah.
“Thanks ya,” kata Pink.
“Gue lagi yang seharusnya terima kasih karena lo udah bantuin gue ngomong ke bokap gue,” kata Ruben.
“Anak yang suka tawuran kayak lu takut sama bokap?” Pink mengolok-oloknya. Namun Ruben tidak marah.
“Soal lamaran itu
bagaimana?” tanya Pink.
“Kita lihat aja nanti,” sahut Ruben.
Sewaktu Pink pamit mau masuk ke rumah, lucu deh, dia mau jitak kepala Ruben dua kali. Tapi Ruben berhasil ngeles. Eit...eit...hehehe...:D:D:D

Di rumah Reza. Papa Reza memaksa Reza untuk pindah ke kantor papanya Jingga. Katanya semua sudah diatur. Reza terpaksa menurutinya.

Ruben main bilyar sama dua temennya. Mereka kaget juga waktu Ruben bilang papanya tetap mau ngelamar Pink, meskipun Pink nggak hamil.
“Wah, berarti selera lo dan bokap lo sama, ya.” :D:D:D
Ruben cuma senyum2 aja.

Besoknya, di sekolah, waktu Pink baru keluar dari kelas, Ruben lari-lari ngejar Pink dan mengatakan bahwa papanya akan datang ke rumah Pink besok untuk melamar. Pink panik.
“Kenapa datangnya besok? Kenapa nggak lusa, seminggu lagi, dua minggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi?” kata dia sambil memegang kepalanya.
“Emang lu belum ngomong sama sekali ke bokap nyokap lo?” tanya Ruben.
“Belum,” jawab menjawab dengan polos.
“Sedikit pun belum?”
“Belum.”
Lagi bingung begitu,
Pink melihat Reza dari jauh. Kayaknya lesu banget. Pink terpaku. Ruben melihat apa yang Pink lihat.
“Huh!” dengan geram Ruben pergi.














P
ink mendatangi ruangan Reza. Reza sedang membenahi semua barang2nya.
“Za, lu mau kemana? Mau berhenti dari sekolah ini?” tanya Pink.
“Ini sudah jadi keputusan aku, Pink,” kata Reza.
“Lo bilang lo suka ngajar. Lo suka ngeliat murid2 lu. Gue seneng lu jadi guru, walaupun gue harus memanggil lu ‘bapak’.”
Reza terus berkelit dengan bilang bahwa itu keputusannya sendiri. Tapi ia tidak berani menatap wajah Pink.
“Za, lu jawab pertanyaan gue. Tapi lu liat mata gue,” kata Pink.
Begitu Reza menoleh, ia tidak sanggup berkata2, malah memeluk Pink dengan sedih.













Saat itulah ibu Nuri masuk. Pelukan mereka lepas.
“Ini nggak seperti yang ibu kira,” kata Pink.
Tapi ibu Nuri nggak peduli, dia langsung meluk Reza.


“Pak Reza mau pindah ya? Sebenarnya selama ini saya mencintai bapak.”
Pink keluar pelan2.
“Sebagai perempuan saya tau kalau bapak suka sama Pink. Meskipun bapak tunangan sama kakaknya Pink, tapi saya tau kalau sebenarnya bapak lebih mencintai Pink,” kata ibu Nuri.
Pink sempat menoleh sebentar. Mungkin dalam hati mikir, ‘kok ibu Nuri tau?’. Mungkin Reza juga berpikiran seperti itu.

Ruben lagi tiduran di kursi taman (barangkali merenungi Pink yang masih perhatian ke Reza). Dua temennya datang, heboh banget. Sampe Ruben bingung sebenarnya mereka mau ngomong apa.
“Saingan lu, Pak Reza, mau cabut dari sekolah.”
Ruben agak kaget, tapi seneng tuh ;)

Pink ke kantor ayahnya. Dia sempat melihat Faisal dari belakang. Kok, kayaknya dia kenal. Tapi mereka nggak ketemu muka.
Begitu masuk ke ruangan ayahnya, ada Jingga di sana.
“Kamu mau minta uang jajan ya, Pink?” sindir Jingga yang lagi baca2 majalah.
Pink-nya rada2 gimana gitu. Sewot kali, tapi nggak menanggapi.
“Pa, papanya Ruben mau dateng besok.”
“Mau ngapain?” tanya papa Pink.
“Mau ngelamar kali, Pa,” kata Jingga.
(Kok, Jingga tahu sih?)
“Terima aja, Pink, jarang2 ada orang yang mau ngelamar kamu,” kata Jingga sambil tertawa (buset deh)
Papa Pink kayaknya masih ragu. Pink ngebelain Ruben (cieeeee...;):D:))
“Ruben itu anaknya baik. Nggak seperti yang papa kira. Dia bukan berandalan...”
Ketika itulah Pink melihat sesuatu di meja. Majalah. Dia terpaku melihat cover majalah itu.
“Ini kan papanya Ruben,” kata Pink.
“Kamu jangan coba2 bohong lagi, ya,” kata papa Pink :D
Pink memastikan bahwa itu papanya Ruben.
“Ya udah terima aja, Pink,” kata Jingga (uuhh dasar Jingga)
Papa Pink menjelaskan tentang orang dalam cover itu.
“Dia ini termasuk sepuluh orang terkaya di Asia Tenggara. Kekayaannya nggak akan habis 7 turunan. Dia punya usaha di bidang farmasi, hiburan, blablabla...” (pokoknya banyak deh gue aja sampe lupa :D)
Pink agak kaget juga.
“Tapi setau papa, orang ini susah didekati,” lanjut papanya.
(Wah, berarti Pink beruntung donk ;))
Begitu meninggalkan kantor, gantian Faisal ngeliat Pink. Tapi Pink nggak ngeliat Faisal.

Pulang dari kantor ayahnya, Pink langsung ke kafe. Di sana rame banget. Teman-teman Pink dan teman-teman Ruben lagi ngumpul. Pink agak kaget waktu mereka semua tahu tentang lamaran itu.
Di pintu kafe, terlihat Jono menarik-narik Ruben. Dan Ruben agak malu-malu waktu melihat Pink ada di sana. Setelah didesak akhirnya Ruben menghampiri Pink dan mengajaknya ke suatu tempat.
Ternyata Ruben mengajak Pink ke taman. Di tengah kolam air mancur, ada sekumpulan bunga-bunga yang berbentuk hati. Di sanalah Ruben menyatakan cintanya.
“Gue akan menunggu sampai lu mau membuka hati lu untuk gue. Gue tau lu nggak bisa jawab sekarang.”
Ruben melepas kalungnya dan diberikan ke Pink.
“Simpan ini sampai lu punya jawabannya.”
Jreng...jreng...lalu Ruben mencium kening Pink. So sweet...[love2]

Seperti biasa, Ruben mengantar Pink lagi. Kali ini sampai depan pintu rumah lho ;). Ruben mengatakan sekali lagi bahwa dia akan menunggu Pink.
“Gue akan menunggu sampai lu mau membuka hati lu. Dan gue janji nggak akan bikin lu menangis lagi.”
(Snif...snif...terharu deh [love2])
Pink tidak menjawab apa-apa. Ia malah membuka pintu dan langsung masuk. Tidak tahu deh apa perasaan Ruben. Apakah dia kecewa atau biasa-biasa saja. Tapi tak lama kemudian Pink keluar lagi :):)
“Selamat malam.”
Ternyata Pink cuma mau pamit ;):D. Ruben membalasnya sambil tersenyum.

Reza bekerja di kantor papanya Jingga. Jingga senang banget. Tapi Faisal ketar ketir. Rencananya bakalan terhambat. Tapi dibalik itu papa angkat Reza mengancam Reza supaya memindahkan aset perusahaan papa Pink ke perusahaan fiktif miliknya (jahat banget yah?). Kalau Reza nggak mau nurut, dia akan mencelakakan orang yang Reza sayangi.

Papa Pink, Faisal, Jingga dan Reza rapat. Tapi Jingga pusing.
“Kamu pulang aja,” kata papanya. “Lagi pula nanti kan ada tamu.” (Itu lho, keluarganya Ruben yang mau ngelamar ;):):D)
Reza diminta mengantar Jingga sampai rumah.
Di rumah, Jingga melarang Reza untuk kembali ke kantor.
“Kamu di sini aja,” kata Jingga dengan manja.
Saat itulah Pink turun dari tangga dan melihat mereka. Tapi dia cuek2 aja. Reza terpaku ngeliat Pink. Tapi Jingga terus nyender2 ke dia.

Pink jalan di samping taman. HP-nya bunyi. Ternyata dari Ruben.
“Ya, Ben. Gue lagi mau ke sana.”
(Ke sana? Kemana, ya? Nggak tau, deh)
Di telepon Ruben bilang kalau keluarganya mau datang ke rumah Pink.
Pink melihat sesuatu di dalam taman.
“Eh, Ben, Ben, Reigy dalam bahaya!”
“Pink! Pink!” panggil Ruben.
Tapi Pink nggak dengar. Dia lari masuk ke taman. Di sana ada beberapa orang sedang menyerang Reigy (mungkin mau nyulik). Pink buru2 menolong.
“Eh, b4nci lo, beraninya sama anak kecil!”
Pink sudah berhasil memegang Reigy dan dua orang penjahatnya sudah sedikit menjauh. Tapi ternyata ada satu orang lagi di belakang Pink (sangar, bo!). Dan dia membekap mulut Pink.

Bersambung....

Poor Prince



Poor Prince (Serial Taiwan)
Judul Serial : Poor Prince
Produksi : 2001
Pemain :
Vic Zhou as Tai Lang/Yamada Taro
Gao Hao Jun as Yu Chen
Li Jin Hong as San Pu
Ken Zhu as He Fu/Kazuo
Annie Yi as Ling Zi
Sandrine Pinna as Si Mei
Liu Han Ya as Long Zi
Stella Chang as Niao Ju
Wu Ti Ni as Mei Jia
Lin You Wei as Ah Tian
Edward Ou

Serial ini dibuat sekitar 4,5 tahun yang lalu (lama, ya?). Tepatnya ketika F4 lagi booming banget. Di Poor Prince, pemeran utamanya Zai Zai, 'adenya' Ken. Sedangkan Ken cuma jadi peran pendukung, jadi bokapnya Zai Zai. Hahaha! Pantes kok :p. Sama2 handsome :)

Sumpe deh, nih drama kocak abis (beruntung deh gw punya vcd-nya). Ceritanya tentang Taro (Zai Zai), pemuda tampan, pintar, rajin, tapi miskin sekali. Dia harus bekerja keras membanting tulang agar keluarganya tetap hidup. Ibunya rada2 dodol, suka ngabisin duit Taro yang susah payah dikumpulin. Bokapnya, Kazuo (Ken Zhu) suka kabur2an ke luar negeri. Taro punya sobat deket namanya Mimura, dia anak orang kaya. Ada Takako, seorang cewek temen kuliah Taro yang naksir abis sama dia. Tapi begitu tau Taro miskin, dia mundur pelan2. Ada seniornya di kampus, yang juga amat mencintainya. Namanya Sugiura (laki , bo!). Adik Taro ada enam (banyak...banyak...). Namanya Jiro, Saburo, Yoshiko, Itsuko, Mitsuko, dan Shiro. Di pertengahan episode Taro punya adik lagi, kembar 3. Totalnya jadi 10.

Di antara adik2nya Taro, gue paling suka sama Yoshiko. Abis dia manis banget sih. Cocok banget jadi adiknya Taro. Penasaran juga pengen tau nama aslinya ;). Pas di akhir episode kan ada adegan NG (adegan salah). Di situ pemeran adik Taro ketawa2 terus pas liat Zai Zai lagi latihan dialog. Juga pas take bareng, karena Zai Zai bikin salah mulu :D. Tapi Aslinya Zai Zai emang humoris :D. Suka bikin orang ketawa (pantes aja jadi adik kesayangannya F3 :p)

Poor Price di Wikipedia
Poor Prince Review

Poor Prince OST
Poor Prince Opening - Dragon 5 (I Want To Hold Your Hand)
Poor Prince Ending - Annie Yi (Ni shi wo de xing fu ma/Are You My Happiness?)

Drama
Poor Prince [Part 1/3]
Poor Prince [Part 2/3]
Poor Prince [Part 3/3]
Poor Prince Episode 5 [Part 4/5]

Behind the Scene
Video 080104-發音不準NG篇
Video 080110-仔仔餐廳打工篇
Video 080111-仔仔定裝篇
Video 080112-仔仔很入戲哦
Video 080113-仔仔個人獨角戲篇
Video 080114-仔仔累到不行篇
Video 080115-仔仔賣早餐篇
Video 080116-仔仔蕊台詞超爆笑
Video 080117-仔仔孝天對戲篇
Video 080119-仔仔煮飯篇
Video 080131-仔仔超市篇之一
Video 080132-仔仔超市篇之二
Video 080141-仔仔與阿雅工地篇-1


Perbedaan Poor Prince komik dan serial

1. Di komik, tokoh Taro adalah siswa SMU. Di serial, mahasiswa. Otomatis tokoh lainnya juga ‘naik’. Adik2 Taro yang cowok jadi anak SMU dan yang cewek, SMP.
2. Di komik, setelah kembali ke rumah lama, keluarga Taro semakin miskin. Sampai2 rumah mereka jadi miring, lalu rubuh. Diganti dengan rumah karton. Dan beberapa tahun kemudian, rumah mereka ada di bawah tanah karena kena badai taifun (agak sadis kan?). Di versi serial, cerita berhenti sampai mereka pindah ke rumah lama.
3. Di komik, lokasi rumah mereka di tengah kota. Di kanan kiri rumah tetangga. Lumayan ramai. Tapi di serial, lokasinya agak di desa. Banyak pepohonan, ada bukitnya juga. Tempatnya lebih sepi. Pokoknya rada terpencil. Pas banget.
4. Tokoh2 dalam serial lebih ‘cantik’ daripada di komik. Maksudnya pemain cowoknya lebih ganteng dan pemain ceweknya lebih manis. Pemain2nya sangat pas memerankan karakternya.




Di bawah ini salah satu adegan antara Taro dan bokapnya, Kazuo (versi drama) :

Taro lagi sakit (shock karena ada yang mau memberinya warisan 10 Miliar NT atau senilai 69.250.000 hamburger :)). Ketika ibu dan adik2nya sedang merawatnya, tiba2 ayahnya Taro, Kazuo, datang. Ibu Taro yang terkejut langsung melempar handuk untuk kompres. Karena lemparnya sembarangan jadinya nyangsang, pas banget ke muka Taro :p. Kazuo yang melihat Taro mukanya ditutup, langsung menghampiri Taro dan menangis.

"Mana boleh kau mendahului orang tua. Dasar anak brengsek. Taro!"
*Kazuo shock, dikiranya Taro mati. Abis mukanya ketutupan handuk sih :D*
"Ayah." Adik2nya Taro memanggil.
"Kelak aku harus bagaimana?" Kazuo maratap2 memeluk Taro *masih nangis*
"Kazuo." Istrinya juga memanggil.
Tiba2 Taro bangun dan membuka handuknya. Dia agak sesak nafas karena mukanya ketutupan handuk dan dipeluk dengan erat oleh ayahnya :p. Kazuo kaget! Kok orang mati bisa bangun lagi?!!!!
"Hantu! Mohon arwah penasaran pergi." Kazuo memohon2 dengan menempelkan kedua telapak tangannya, seperti orang berdoa. Matanya merem. Mukanya ketutup rambut (rambutnya kan panjang ;)).
"Taro, kau pergilah dengan tenang. Pergilah. Jangan keluar menakuti orang lagi." Kazuo terus berdoa.
"Ayah," panggil Taro.
Kazuo membuka rambutnya yang menutupi wajah (kayak buka gorden :D)
"Kau tak mati? Lalu kenapa orang keluarga Mimura sampaikan surat padaku?"
Kazuo menunjukkan secarik kertas. Isinya singkat. *Isinya apaan? kagak tau dah :p. Kan tulisannya bahasa mandarin. Nggak ada terjemahannya*.
Taro bingung.
"Selamat pulang, Kazuo," kata ibu Taro.
"Ayah sudah pulang," kata itu.
Giliran Kazuo yang bingung. Akhinya dia sadar kalau tidak terjadi apa2 dengan Taro.
"Ayako," dia menggenggam tangan istrinya. "Maaf, merepotkan telah melahirkan kembar 3 untukku."
"Tapi masih ada orang yang meninggal," kata Ayako, ibu Taro.
Dia menunjukkan sebuah foto berpigura.
"Nyonya Mako telah meninggal."
"Mako, ya?" tanya Kazuo. Dia menghitung jarinya. "Hampir. Saat kukenal dia, dia sudah cukup tua. Apakah dia tinggalkan sesuatu?"
"Tinggalkan 10 Miliar NT. Harta tetap dan tak tetap," jawab Ayako.
"Bagus sekali." Kazuo senang.
"Aku juga merasa rumah ini terlalu sempit terutama sekarang ditambah 3 bayi kecil."
"Tapi jumlah ini terlalu banyak," kata Taro. "Kurasa janga2 ini jebakan."
"Kau terlalu cemas. Ayah sering alami hal ini. OK, tak ada masalah," kata Kazuo.
"Ayah, jangan bicara seperti ini lagi di depan ibu."
Tapi ibunya Taro seneng2 aja tuh. Ia tersenyum pada Kazuo.
"Barang2 kita tidak terlalu banyak. Kita pergi temui pengacara," kata Kazuo. Lalu ia bicara pada anak2nya.
"Siap2 pindah rumah?"
"Yaaa...!" anak2nya senang. Kecuali Taro.
"Mau pindah rumah?" tanya Jiro.
"Kita mau tinggalkan sini?" tanya Saburo.
"Kita mau pindah kemana?" tanya Yoshiko.
"Kita mau pindah ke rumah nenek ini," kata Kazuo sambil menunjuk gambar wanita di foto. "Karena itu kita harus berterima kasih padanya.
"Terima kasih pada nenek." Semua berterima kasih, kecuali Taro.
"Ayah, apa atap rumah baru kita akan bocor?" tanya Itsuko.
"Tentu tidak," sahut Kazuo.
"Lalu jika pintu dibuka, akankah jatuh?" tanya Mitsuko.
Kazuo memegang pipi anaknya.
"Kurasa tidak. Tapi di sana ada banyak toilet."
"Sungguh bagus," kata Ayako. Dia meletakkan foto nenek baik hati itu, kemudian bicara pada Taro.
"Taro, dengan begitu kelak kau tak perlu begitu susah. Melihat semua begitu gembira, ibu juga sangat gembira."
"Ayo kita siap2 pindah rumah," kata Kazuo.
"Baik."
Semuanya pun bangkit dan bersiap2. Hanya Taro yang lemas. Dia tiduran lagi.
"Selalu merasa ada sedikit tak nyata," katanya.



Yang mau nonton Poor Prince lengkap, ini dia linknya : Poor Prince xie xie ni men :)
Dan capture dari drama Poor Prince


Opening drama Poor Prince