1 Jul 2006

Pink Episode 1-6

PINK 1-6

PINK Episode 1: Pink Berulah di Sekolah Baru

Pertemuan Ruben dan Pink berawal saat terjadi tawuran antar sekolah, keduanya pun berseteru demi membela sekolah dan teman-temannya.
Di tawuran itu Pink berantem dengan Ruben yang telah meninju Andi, teman Pink. Polisi pun datang dan menangkap Pink. Tak lama berselang datanglah Reza, pacar kakak Pink yaitu Jingga. Reza membayar uang jaminan pada polisi agar Pink dibebaskan dari kurungan.
Esok harinya, Bapak Darmawan, ayah Pink geram melihat tulisan di koran mengenai tingkah laku Pink. Darmawan akhirnya mengambil langkah untuk memindahkan sekolah Pink ke sekolah dimana Reza mengajar.
Pink yang menyukai Reza malah senang karena berarti Pink akan lebih dekat lagi dengan Reza, pangeran hatinya. Pink berinisiatif untuk memberitahu Reza mengenai hal itu. Namun saat Pink menuju ruang piano, ia melihat Reza sedang menyentuh Jingga. Pink kecewa dan membatalkan niatnya lalu segera pergi.
Reza sekelebat melihat bayangan seseorang pergi keluar. Reza panik karena tidak menemukan Pink dimanapun. Pink lari keluar rumah, padahal sedang hujan. dan hampir saja Pink tertabrak motor. Untungnya motor itu bisa berhenti, sang pengendara motor ingin menolong Pink. Betapa kagetnya mereka berdua bahwa mereka adalah musuh saat tawuran. Pink langsung melabrak Ruben karena tidak berhati-hati. Alhasil mereka saling bertengkar.
Sore hari, Pink sedang di coffee-shop memainkan harmonikanya ditemani oleh Andi. Reza terus berusaha menghubungi Pink, namun Pink selalu menolak teleponnya. Saat ingin pulang menitipkan harmonikanya pada Manager kafe untuk diserahkan pada Reza. Pink dan Andi pun pulang.
Esok hari, Pink datang terlambat ke sekolah barunya. Pink memilih untuk memanjat tembok belakang sekolah. Ternyata Pink bertemu lagi dengan Ruben. Betapa kagetnya Pink juga Ruben. Sama seperti sekolah lama, baru hari pertama Pink sudah dipanggil Ibu Nuri. Pink dibela oleh Reza, yang juga mengajar di sekolah itu. Reza meminta Ruben untuk dihukum juga. Pink dan Ruben dihukum untuk merapikan buku di perpustakaan.
Saat keruang guru, kekesalan Pink muncul lagi melihat Reza berdua dengan Jingga. Pink menghentakkan kakinya, Reza menoleh dan memanggil Pink. Siangnya, Pink makan siang bertiga dengan Reza dan Jingga. Kekesalan Pink dibalas dengan bersikap tidak sopan di restoran. Reza dan Jingga hanya bisa diam karena sangat malu.
Di rumah, kemarahan Jingga menjadi. Jingga mengadu pada mamanya, Ibu Lilac. Ibu Lilac hanya bisa menasihatkan Pink tentang tata krama.
Keesokan hari, Ruben lagi-lagi mengusili Pink. Callista dan gengnya dibuat heran akan tingkah laku Ruben yang tampak menyukai Pink. Callista yang sedari dulu menyukai Ruben tak tinggal diam. Ia akan melakukan sesuatu daripada kehilangan Ruben.
Demi mendapatkan perhatian Ruben kembali Callista cs. Mencegat Pink saat melewati gudang. Callista melabrak Pink tentang Ruben. Tak disangka, Ruben tiba-tiba menghalau tangan Callista ketika Callista ingin menampar Pink. Lalu Ruben menghardik Callista agar pergi dan tidak mengganggu Pink lagi. Pink yang merasa bisa menolong diri sendiri marah pada pertolongan Ruben.
Malam hari dikamar, Pink tercenung melihat foto yang berisi dirinya, Reza juga Jingga. Ternyata ia baru menyadari bahwa sedari kecil Reza tampak memilih Jingga daripada dirinya. Kesan itu terlihat dari foto-foto lama.
Pagi hari di sekolah, Pink melabrak Ruben karena gosip-gosip miring yang beredar di sekolah melalui selebaran. Ruben malah menuduh Pink kalau Pink tidak ingin Reza mendengar hal-hal buruk tentang Pink. Padahal yang paling diinginkan Ruben adalah agar Reza segera keluar dari sekolah ini.

PINK Episode 2: Teror di Sekolah

Siang hari di sekolah, Pink sedang menyantap makan siangnya. Samar-samar Pink mendengar gosip tentang Reza. Seketika itu juga Pink langsung mencari Reza. Saat menemukan Reza, Pink tak dapat menanyakan seputar gosip yang didengarnya tadi. Ia langsung pulang.
Pink cemburu mendapati Jingga bermesraan dengan Reza di telepon. Pagi itu, Reza mengunjungi rumah keluarga Pink untuk menjemput Jingga dan Pink. Reza mengucapkan selamat pada Pak Her yang telah memenangkan tender. Saat Jingga pamit pergi bersama Reza dan ingin mengajak Pink, Pink telah menghilang.
Saat di sekolah, Pink menerima surat ancaman pertama. Pink yang berani, tak merasa takut dan hanya merobek kertas ancaman itu. Di koridor sekolah, Pink dikerjai oleh Ruben dan teman-temannya. Ruben mendekap Pink, Pink kesal karena merasa dipermalukan. Pink tak dapat berbuat apa-apa, karena diancam oleh Ruben.
Pink tambah kesal, karena kejadian itu selain dilihat oleh teman satu sekolah, juga oleh Amanda dan Calista cs. Sepulang sekolah, Pink menunggu bis di halte. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berkaca gelap ingin menabraknya. Untungnya, Pink dapat menghindar. Lalu muncul Ruben yang mengajak Pink pulang. Pink kontan saja menolak.
Beruntunglah Pink karena Sarah segera datang bersama dengan geng sekolah lamanya. Pink serta merta melompat ke dalam mobil Sarah. Pink memberitahu Sarah bahwa ada seseorang yang ingin membuat dirinya celaka. Sarah mengantarkan Pink hingga ke rumah Pink.
Sementara di cafe, Jingga datang menemui Reza. Disambut oleh Manager cafe yang mengagumi kecantikan Jingga. Manager cafe bercerita pada Jingga bahwa ada gadis remaja yang setia menunggui Reza, bernama Pink. Jingga terkejut. Manager cafe terus berusaha merayu Jingga, namun tak berhasil. Jingga yang merasa risih, pamit pada Reza untuk pulang.
Manager cafe makin keki aja melihat Jingga berpelukan dengan Reza. Di tempat lain, Ruben bertemu dengan seorang misterius. Ruben merencanakan sesuatu, dengan sangat hati-hati. Ruben memerintahkan pada orang misterius untuk tidak bertemu sementara.
Sesampainya di kelas, Pink menemukan satu lagi surat misterius yang kembali bernada mengancamnya. Geram karena ancaman tersebut, Pink melabrak Ruben atas tindakan pengecutnya. Pink pun mengancam Ruben akan dilaporkan ke polisi atas perbuatannya. Ruben mengambil kertas yang tadi dilempar Pink dan membacanya.
Satu kejadian lagi dialami Pink. Seseorang telah memasukkan seekor kodok ke dalam tasnya. Kelas Pink berubah menjadi gaduh. Ibu Nuri kebetulan melewati kelas Pink, juga ikutan kaget.
Ketika tahu bahwa kodok itu berasal dari tas Pink, Pink langsung digiring ke ruang BP. Hasilnya, Pink dihukum dobel, karena buku PR Pink juga hilang.
Di kelas, saat istirahat, Amanda memanggil Pink. Amanda memperlihatkan buku PR Pink yang sudah tak berbentuk lagi, di tempat sampah. Melihat bukunya dirobek-robek, Pink merasa shock. Lagi-lagi kejadian yang aneh. Baru sebentar saja Pink meninggalkan kelasnya, tas hadiah dari Reza sudah dirobek pula.
Di sebuah tempat perbelanjaan, pandangan Pink tertuju pada Ruben, yang gelagatnya mencurigakan, bersama dengan seseorang yang misterius. Karena penasaran, Pink membuntuti Ruben dan orang misterius itu.
Ternyata, Pink membawa barang toko dan akibatnya sejumlah satpam mengejar Pink, karena mereka mengira ia adalah maling. Pink digiring ke pos satpam.
Pink menyangkutkan Ruben dalam masalah ini. Ruben dicari satpam dan dipertemukan dengan Pink. Satpam mempersilahkan Pink untuk menyelesaikan masalah pribadinya dengan Ruben, namun Pink meminta agar Pak Satpam itu mau menjadi saksi.
Di tempat lain, Reza khawatir dengan Pink yang semakin susah saja dihubungi. Akhirnya, Pink dibebaskan oleh satpam, sedangkan Ruben masih ditahan. Pink menyangka orangtuanyalah yang membebaskannya, ternyata teman-temannya patungan untuk membebaskan Pink.
Di rumah, Pink kena marah atas tingkah lakunya yang makin menjadi-jadi. Reza bingung, mengapa Pink tak lagi menghubunginya saat ia kena masalah, main ke cafe dan hal-hal yang biasa Pink lakukan. Pink hanya menjawab bahwa dirinya tak ingin mengganggu Reza dengan Jingga. Reza mengembalikan harmonika milik Pink.
Di sekolah, semua anak menjauhi Pink. Pink menyangka bahwa ini adalah ulah Ruben, yang menghasut Pink dengan berita-berita miring. Saat menaiki tangga, Pink tergelincir. Sontak Ruben berlari hendak menolongnya, dan secara tak sengaja, Pink jatuh di atas tubuh Ruben. Ruben panik, karena Pink tak sadarkan diri.
Hingga siang, Pink belum juga siuman. Ruben sedih dan marah. Saat Amanda datang, Ruben menitipkan Pink padanya dan ia sendiri pergi untuk melampiaskan amarahnya. Calista yang mengetahui hal itu, menghampiri Ruben. Namun, Ruben menyuruh Calista meninggalkannya seorang diri.
Saat Ruben kembali, Pink sudah siuman. Namun yang didapati Ruben adalah kemarahan Pink dan berbagai macam tuduhan yang diarahkan padanya. Amanda menjelaskan bahwa yang menolong Pink adalah Ruben. Pink tetap tak dapat menerima alasan itu dan kembali melemparkan tuduhan atas Ruben. Ruben menjadi sangat kesal dan tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia langsung meninggalkan Pink yang masih merasa shock dan 'tak enak'.

PINK Episode 3: 'Rahasia Surat Ancaman...'

Setelah Pink terjatuh dari tangga dan dibawa oleh Ruben ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Ruben menunggui Pink hingga tiba-tiba timbul penyesalan yang membuat Ruben melampiaskan pada sekelilingnya. Ruben menendang temoat sampah, menyenggol keras teman-teman sekolah yang dilewatinya hingga Calista pun kena getahnya.
Saat calista menghampiri Ruben dan bertanya tentang perasaan Ruben terhadap Pink, Ruben membalas dengan ancaman agar menjauhinya. Calista pun segera menjauhi Ruben.
Setelah Ruben puas melampiaskan amarahnya, Ruben kembali ke UKS. Disana Ruben melihat Amanda tengah menunggui Pink yang baru tersadar.
Pink tersadar Ruben datang, langsung mencaci Ruben. Amanda membela Ruben dengan mengatakan fakta bahwa Ruben-lah yang menolong dan membantu Pink. Pink kaget dan mencari alasan lain untuk menjatuhkan Ruben.
Sementara di Panti Tuna Rungu, Reiki sedang menunggu perempuan yang menolongnya tempo hari. Ibu panti yang baik hati menemaninya sambil bercakap-cakap. Namun hingga lama, kakak yang ditunggu itu tak kunjung datang.
Di coffe shop, Jingga telah lama menunggu Reza. Namun saat Reza datang, Jingga langsung ngambek dan meninggalkannya begitu saja. Reza hingga kebingungan akan tingkah Jingga.
Saat di tangga coffe shop, Jingga berpasan dengan geng Pink. Jingga terpikir perkataan manager coffe shop, tempat Reza bekerja, bahwa Pink sering mengunjungi Reza. Sampai di jalan, Jingga bertemu dengan Luna, adik Reza. Luna mengajak Reza untuk pulang bareng dengan mobil Luna. Jingga mengiyakan ajakan Luna.
Dalam perjalanan, Luna menceritakan perasaan anehnya akan kedekatan Reza-Pink yang terlihat lebih dari hubungan adik-kakak.
Jingga semakin curiga namun karena Luna mengompori Jingga agar cepat-cepat meresmikan hubungan Jingga dengan kakak laki-lakinya, Jingga jadi sedikit lebih tenang.
Pulang sekolah, Pink berjalan tertatih-tatih akibat luka-lukanya. Saat melewati geng Calista, Pink kembali diganggu. Ruben melihat dari kejauhan pada awalnya cuek namun setelah melihat Pink dikeroyok oleh geng Calista Ruben langsung menolong Pink.
Ruben menghardik geng Calista dan geng Calista pun langsung kabur ketakutan. Ruben memutuskan untuk mengantar Pink pulang. Awalnya Pink menolak tapi Ruben berkeras hingga Pink tak kuasa menolak lagi, terlebih Pink tak dapat menahan rasa sakitnya.
Sesampai di rumah, Pink tetap menunjukkan kekerasan hatinya dengan mengusir Ruben dari rumahnya. Ruben kontan sewot karena bukannya ditawari minuman malah langsung disuruh pulang. Tapi langkah pulang Ruben terhenti ketika Jingga datang. Jingga kaget karena lagi-lagi Pink pulang sekolah dengan luka-luka.
Pink pun menunjukkan pada Jingga aksi sayangnya ke Ruben seolah-olah Ruben adalah pacar Pink. Pink mengusir Ruben dengan bahasa tubuh seolah-seolah Ruben pulang karena kemauannya sendiri. Ruben pulang dengan kedongkolan di hati.
Jingga menelpon orangtuanya disaat Pink sedang diobati oleh ayah Reza. Jingga mengingatkan orangtuanya agar pulang ke Indoneesia tepat waktu untuk rencana makan malam keluarga bersama keluarga Reza. Sehabis ayah Reza menyuntik Pink, Jingga mengingatkan rencana makan malam yang telah disusunnya.
Keesokkan harinya, Ruben mencari-cari Pink di seantero sekolah hingga bertemu dengan Amanda. Amanda menjelaskan pada Ruben bahwa Pink tidak masuk sekolah.
Perasaan Ruben tidak karuan. Ruben pun menjenguk Pink kerumahnya. Tadinya Ruben ingin membawa sebatang bunga mawar tapi diurungkannya. Didalam rumah Pink, Ruben kaget melihat banyak orang termasuk teman-teman Pink. Pink tak kalah kaget hingga tak mampu berkata apapun. Ruben yang kebingungan langsung memutuskan untuk pergi.
Esok harinya, Pink melarikan diri agar bisa bersekolah. Pink memaksakan diri berjalan kaki ke sekolah. Amanda melihat Pink kesakitan memberhentikan mobilnya. Sesaat ketika Amanda memanggil Pink, Pink pingsan.
Amanda langsung membawa Pink kerumahnya. Untungnya dirumah Amanda, Pink cepat sadar. Setelah Pink tersadar, Amanda pamit ingin sekolah karena ada ujian. Amanda mengingatkan Pink agar beristirahat dikamarnya hingga ia kembali nanti. Pink mengiyakan. Amanda pun langsung pergi ke sekolah.
Pink tak tahan berdiam diri, menyusuri kamar Amanda hingga mata Pink tertuju pada kertas-kertas bertuliskan ancaman. Pink kaget. Ternyata yang selama ini mengirim ancaman bukanlah Ruben melainkan Amanda.
Alasan Amanda yang tertulis dalam buku hariannya adalah RUBEN. Ternyata Amanda mencintai Ruben. Sayangnya, Amanda tiba-tiba kembali karena ada buku yang ketinggalan. Sama kagetnya dengan Pink, Amanda kaget melihat Pink sedang memegang rahasia hatinya.

PINK Episode 4: 'Reza-Jingga Resmikan Hubungan'

Sepandai-pandainya menyimpan rahasia pasti akan ketahuan juga. Itulah yang dialami Amanda. Kedok yang selama ini dijaga amat sangat rapi akhirnya diketahui juga oleh Pink.
Amanda memang baru saja menyelamatkan Pink dan membawanya pulang kerumah tapi disinilah awal terbongkarnya rahasia Amanda.
Secara tak sengaja Pink membaca buku harian milik Amanda yang tergeletak begitu saja di sudut kamarnya. Pink bukan hanya marah tapi juga kecewa, gertakan Pink membuat nyali Amanda ciut.
Amanda cemburu dengan Pink karena Ruben lebih memperhatikan Pink ketimbang dirinya. Amanda menganggap Pink saingan terberatnya karena sudah sejak lama Amanda naksir berat dengan Ruben.
Kesedihan Pink belum berakhir, rencana Jingga meresmikan hubungannya dengan Reza justru menambah kesedihan Pink. Apalagi kedua keluarga mendukung rencana tersebut, apalagi kalau bukan karena urusan bisnis semata.
Belum lagi usai kesedihan Pink, teman sekolah Pink menuduh Pink sebagai biang atas ketidakhadiran Amanda. Pink yang berang lalu mendatangi Amanda dirumahnya dan membujuknya untuk masuk sekolah.
Kesedihan yang beruntun membuat Pink tak habis pikir atas semua yang di alaminya. Belakangan Pink makin menunjukan sikap cueknya pada Reza, Reza bingung dengan sikap Pink tapi Pink tak menggubrisnya.
Saat acara makan malam, Pink malah memilih tak mengikuti acara itu sampai selesai malah ngeloyor masuk kamar.
Dalam kamar, Pink menumpahkan kesedihannya, Pink yang cuek abis berubah menjadi seorang pemurung. Reza mengetuk pintu kamar Pink dan membujuk Pink membuka pintu kamarnya tapi apa yang terjadi, Pink kembali melarikan diri melalui kaca jendela.
Di tengah jalan, lagi–lagi sebuah mobil hampir saja menyerempet tubuh Pink tapi untung saja Pink berhasil menghindar.
Ternyata pengemudi mobil itu adalah Ruben, sontak saja Pink menyolot tak karuan pada Ruben. Tak ayal lagi, keduanya kembali kembali bertengkar dan Pink mengusir Ruben dari hadapannya tapi apa yang terjadi, sepeninggal Ruben, Pink diincar oleh tiga pria berbadan kekar.
Menyadari dirinya dalam bahaya, Pink celingak-celinguk mencari celah untuk menghindar. Berhasilkah usaha Pink??! Saksikan sinetron PINK selanjutnya

PINK Episode 5: 'Misteri Ruben'

Bukan Pink namanya jika dia tidak berhasil berkelit dari incaran tiga preman yang memburunya, meskipun pada saat yang bersamaan Ruben datang menolongnya, tapi bukannya lari, Pink justru ternganga melihat Ruben yang berkelahi dengan tiga preman itu.
Ruben membawa Pink ke tepian pantai, disanalah Pink mengeluarkan uneg-unegnya selama ini. Pink memendam perasaan cinta yang amat dalam pada Reza, pengakuan Pink membuat Ruben yang diam-diam mulai menaruh hati pada Pink - menjadi patah hati mendengarnya.
Ruben yang tadinya kesal mendadak menjadi iba melihat Pink dan sangat ingin melindunginya. Bak cerita dalam film, ia lalu menyuruh Pink menuliskan pesan pendek dan dimasukan dalam botol lalu menyuruh Pink melemparkannya ke laut.
Dirumah Pink juga tak kalah hebohnya, kaburnya Pink yang kesekian kali membuat ayahnya geram.
Ia lalu menyuruh Jingga menanyakan keberadaan Pink pada Reza, mendadak Jingga jadi cemberut menanggapinya.
Polemik cinta segitiga antara Jingga, Reza dan Pink membuat keluarga Reza gelagapan menanggapinya, ayah angkatnya mengancam Reza untuk tidak melanggar rencananya, yaitu menikahi Jingga demi kepentingan bisnis rumah sakit yang nyaris bangkrut.
Tapi namanya cinta, tetap saja Reza tak peduli meskipun ia juga harus memendam rasa sayangnya pada Pink.
Situasi yang tak terbaca oleh Pak Hermawan, ayah Pink membuat perseteruan cinta terpendam mengalir deras di keluarga itu.
Gaya urakan Pink membuat Ruben semakin jatuh hati pada Pink meskipun setiap ucapannya selalu di tanggapi cemoohan oleh Pink.
Masalah demi masalah menghampiri keduanya, setelah Pink patah hati karena merasa Reza tidak memilihnya gantian Ruben yang merasa risih karena diintai keberadaanya.
Rupanya ayah Ruben mengirim orang misterius untuk membujuk Ruben agar kembali ke rumahnya. Pink mulai menaruh curiga, namanya juga Pink ia langsung menuding Ruben adalah seorang mafia yang bisa saja tiba-tiba membunuhnya, tudingan itu malah membuat Pink bergidik ngeri.
Pink lalu menepis dugaan itu setelah mendengar julukan yang di lontarkan pada Ruben yang menurutnya aneh. Bagi Pink julukan 'aden' yang sayup-sayup didengarnya, hanya digunakan oleh orang-orang tertentu dan berwibawa tinggi.
Mungkinkah Ruben putra kerajaan seperti dugaan Pink? Apa reaksi Ruben menanggapi tudingan Pink? Akankah Ruben mengakui status dirinya?

PINK Episode 6: Ruben Menghilang

Akhirnya Pink kembali kerumah dengan diantar Ruben, bukannya terimakasih Pink malah mengusir Ruben.
Perlahan namun pasti Pink membuka pintu ruang tamunya dan mengendap memasuki rumah, tapi naas bagi Pink, suara kencang ayahnya menghentikan langkah Pink seketika.
Jingga melaporkan pada ayahnya bahwa Pink diantar oleh berandalan yang tak lain adalah Ruben. Pink habis-habisan membela diri, tapi tetap tak berhasil meyakinkan orangtuanya bahwa Ruben bukanlah berandalan melainkan seorang pangeran. Tak satupun diantara mereka mempercayai omongan Pink dan menganggap Pink sedang kecapekan.
Sementara itu, perang dingin yang berlatar asmara masih membayangi Pink dan Jingga. Keduanya memang menginginkan Reza, tapi apa boleh buat, rasa itu lagi-lagi harus dipendam dalam hati.
Reza tak mungkin menjalin hubungan dengan Pink, dan Jingga pun tak kan pernah merelakan Reza menjadi milik Pink. Rasanya sulit bagi Pink melepaskan bayangan Reza begitu saja, sementara Ruben yang selama ini menemani Pink, makin cemburu melihat Pink masih memikirkan Reza.
Pink menangkap ketidaksukaan Ruben pada Reza tapi namanya juga Pink, ia tetap saja membela Reza. Kebersamaan Pink dan Ruben masih diwarnai percekcokan keduanya, Pink panik karena harmonikanya hilang.
Sedangkan Ruben menganggap hal itu sebagai hal yang biasa. Pink makin nyolot, ia lalu memaksa Ruben membantu mencarikan harmonika itu. Pink mengisyaratkan pada Ruben bahwa harmonika itu seharga dengan nyawanya, tetapi alangkah kecewanya Ruben saat menangkap sorot Reza dari mata Pink. Ruben kecewa pada Pink.
Begitupun dengan Reza, beberapa kali ia menangkap kebersamaan Ruben dan Pink yang semakin dekat bahkan kepergok seolah tengah berpelukan, padahal bukan, melainkan Ruben membekap mulut Pink karena Pink berprilaku norak.
Tak berhenti disitu, Reza lalu memanfaatkan teman-teman Pink untuk menasehati Pink agar menjauhi Ruben.
Di tengah gejolak api cemburu antara Reza dan Ruben, tiba-tiba Ruben menghilang dari peredaran di sekolahnya. Sontak saja hal itu membuat Pink kelabakan, ia lantas mulai merasa kehilangan.
Pink menanyakan kepergian Ruben yang tiba-tiba pada Miko, tapi apa boleh buat, Ruben tak meninggalkan pesan apa-apa untuknya. Kemana perginya Ruben? Mengapa Ruben meninggalkannya? Apa ia di culik oleh pria misterius itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar