12 Agt 2006

PINK Episode 18

Pink Episode 18

“Ben, Ben, Reigy dalam bahaya!” seru Pink lewat handphone.
“Pink! Pink!” Ruben memanggil Pink. Tapi Pink tidak mendengar. Ia sudah keburu lari ke dalam taman.
Mama Ruben bertanya ada apa. Dan beliau kaget waktu Ruben menyebut nama Reigy. Keberangkatan mereka ke rumah orang tua Pink terpaksa dibatalkan karena Ruben menunggu kabar dari Pink.

Sementara di tempat lain, Pink dan Reigy disekap di sebuah gudang. Mulut mereka ditutup dan tangannya diikat. Sewaktu diberi makanan, Pink mengambil kesempatan untuk mengeluarkan handphone dan menghubungi nomor Ruben. Dia bicara keras2 dan menyebutkan sebuah alamat.
Ruben tidak mengerti. Robin yang ikut mendengar langsung berkata bahwa Pink sedang memberitahukan keberadaan dia sekarang. Ruben segera menghubungi Karel dan Jono untuk membantunya.

Reigy pura2 pingsan setelah Pink memberi kode. Pink ngomel2 dan menyuruh mereka membawa Reigy ke rumah sakit. Diam2 Pink melepaskan ikatan tangannya. Pink sempat memukul seorang penjahat yang menjaga pintu.
“Jangan mati, ya.” Pink rada takut juga.
Sewaktu penjahatnya kalang kabut, Pink menyuruh Reigy agar segera lari.
Reigy berhasil keluar dari sana. Tapi malah Pink yang dikejar2.
Di depan Reigy bertemu dengan Ruben yang baru tiba.
“Reigy, kakak Pink mana?”
Reigy menunjuk ke arah dalam. Bersama Karel dan Jono, mereka segera mencari Pink.
Tepat saat Pink sedang dikepung oleh para penjahat, Ruben datang dan melawan mereka. Para penjahatnya pun segera kabur.
“Terima kasih, ya.”
Dengan malu2 Pink memeluk Ruben. Tapi setelah itu dia melepaskan pelukannya dan langsung ngomel2.
“Kenapa datengnya lama banget? Gue kan takut...”
Ruben segera menarik Pink ke dalam pelukannya. Tapi mulut Pink terus nyerocos :p
“Gara2 dia nih.” Ruben malah nyalahin Jono.
“Eh, kok gue?”
“Iya, nih. Gara2 elu.” Pink ikut2an nyalahin Jono.
Karel ngetawain.
“Eh, elu juga!” Karel kena semprot Pink.

Pink dan Ruben mengantar Reigy ke panti. Tiba2 Reza datang dan Reigy langsung memeluknya. Mulanya Pink mengira Reza adalah ayah Reigy. Setelah dijelaskan dengan bahasa isyarat oleh Reigy, barulah Pink mengerti kalau mereka kakak beradik.

Pink kembali ke rumahnya. Hari sudah pagi. Ternyata orangtuanya sedang menyiapkan uang sekoper untuk menebus Pink yang katanya sedang diculik.
“Pink!” papanya memanggil karena dengan santainya ia masuk.
“Kenapa? Kok kayak ngeliat setan?”
Pink mendekati mereka.
“Kita mau beli pulau, ya?” tanya Pink begitu dia melihat uang yang banyak sekali.
“Uang ini menebus kamu. Penculiknya minta tebusan 5 M.”
“Gila, harga gue mahal juga, ya. Jadi papa mama mau menebus Pink dengan uang ini?”
Pink memeluk papa mamanya.
“Terharu, terharu. Terharu, terharu,” katanya.
“Ma, kita beli rumah baru aja.”

Keluarga Ruben berniat mengadopsi Reigy. Mereka mendatangi panti asuhan. Mama Ruben heran karena ternyata Ruben sudah mengenal Reigy. Awalnya Robin dan Renata keberatan karena Reigy bisu. Tapi mamanya meyakinkan mereka Reigy berhak dapat keluarga.
“Reigy akan beruntung karena punya mama yang baik.”
“Dan kakak cowok yang ganteng,” kata Robin :p

Di sekolah, Ruben memberitahukan kabar itu pada Pink. tapi Pink nggak percaya. Dia sempat memeriksa dahi Ruben. Jangan2 Ruben lagi sakit.
“Gue serius, Pink.”
“Serius? Tapi kok bisa?”
“Ya bisa lah.”
“Elu kan nggak suka sama Reza.”
“Reza bisa punya keluarga angkat, kenapa Reigy enggak.”

Reza mendatangi panti asuhan. Dan dia nggak setuju kalau Reigy diadopsi.

Pink dan Ruben duduk berdua di taman. Dia tidak menyangka keluarga Ruben mau mengangkat Reigy jadi anak. Ruben juga senang karena Pink mau mengakui dirinya sebagai pahlawan di hadapan Reza.
“Yee...siapa.” Pink tidak terima.
“Jangan gengsi deh, Pink,” goda Ruben. Mereka bersenda gurau.
Kemudian Pink lari, Ruben mengejar. Setelah Ruben berhasil meraih Pink, ia pun memeluknya dari belakang.

Ruben tiduran di pangkuan Pink sambil bercerita tentang mamanya yang ternyata mama tiri. Sementara Pink meringis. Kakinya kesemutan.
“Berat...” keluhnya.
“Pertama2 memang berat waktu papa mau menikah lagi,” sahut Ruben. “Tapi ternyata mama baik sekali.”
“Berat, nih.”
Ruben pun sadar. Ia bangkit.
“Jadi dari tadi nggak dengerin gue, ya?”
“Emang gue budeg apa? Dengerin lah.”
“Bukannya iya.” Ruben senyum2.
“Berarti Reigy beruntung dong punya mama seperti mama kamu.”
“Pink, aku foto, ya,” kata Ruben. “Mama adalah orang pertama yang mendukung aku menjadi fotografer profesional.”
Ruben siap2 memfoto.
“Kalau begitu aku orang kedua yang dukung lo jadi fotografer,” kata Pink.
Ruben tersenyum. Ia memfoto Pink. Gaya pertama Pink manis sekali. Yang kedua udah mulai konyol.
“Kita foto berdua, ya,” kata Ruben.
Ia meletakkan kameranya di atas sepatu. Membuat Pink bengong. Lalu mereka pun pasang aksi. Foto berdua.

Di rumah, Jingga melihat foto2 itu. Ia memperlihatkan pada Reza.
“Mereka serasi, ya. Sama2 gila.”
Sementara Reza malah termenung. Ia menganggap Pink telah melupakannya.
Tiba2 Pink masuk diikuti Ruben. Ia terdiam melihat mereka berdua. Lalu ia membalik langkahnya. Ruben mengejar.
“Pink.”
Pink duduk di teras rumahnya. Ruben duduk di sebelahnya.
“Pink, gue cuma mau kasih tau kalau gue bener2 sayang sama lo.”
“Gombal.”
“Serius. Meskipun lu suka jutek dan marah2. Tapi gue sayang banget sama lo.”
Pink tersenyum.

Reza dan Jingga pergi menemui klien. Tapi di tengah jalan Reza turun. Ia pergi ke panti asuhan dan membawa Reigy pergi. Sementara papa Pink terkejut karena ia semua kehilangan aset perusahaaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar