19 Agt 2006

PINK Episode 20

Episode 20


Pink berhasil menemukan Reza di sebuah rumah. Mereka berpelukan. Pink mengatakan bahwa dia percaya bukan Reza yang melakukan pencurian itu. Dan Pink memberitahu bahwa ibu kandung Reza mencarinya. Saat itulah Ruben datang.
“Gue nggak nyangka, Pink,” katanya.
“Maksud lo gue sama Reza?” kata Pink.
“Lebih dari itu. Lu membantu menyembunyikan Reza.”
“Pikir donk, Ben. Masa gue membantu menyembunyikan orang yang dituduh merampok uang bokap gue.”
Ceritanya Ruben nuduh Pink menyembunyikan Reza karena dia memergoki mereka berdua di rumah itu.
“Gue yang membantu Reza,” kata Imam, teman Reza.
“Gue difitnah,” kata Reza.
“Dan gue percaya kalau Reza tidak bersalah,” kata Pink. “Kita harus berbuat sesuatu untuk membersihkan nama baik lo.”
Ruben kayaknya jealous berat karena Pink mesra banget sama Reza sampe pegangan tangan segala. Kemudian Reza menanyakan siapakah ibu kandungnya.
“Henidar,” jawab Pink. “Dia adalah orang yang mau mengadopsi Reigy. Dia adalah ibu kandung lo.”

Ruben dan Pink berduaan.
“Kok sepi? Biasanya lo rame,” kata Ruben.
“Emangnya hajatan rame,” sahut Pink [lol][lol]
Dan itu bikin Ruben jadi senyum :):):):)
“Gue lagi cari cara untuk nolongin Reza,” kata Pink.
“Emang harus lo, ya?”
“Kalo bukan gue siapa lagi?”
“Yakin? Nggak ada pamrih lain?”
“Maksud lo?”
“Lu nolongin Reza karena...”
“Karena Jingga. Gue sayang banget sama Jingga. Dan Ji-ngga sayang banget sama Reza.”
Pink engga hanya cantik, tapi hatinya baik banget. Semua orang ditolong sama dia, kata Ruben dalam hati sambil memandang Pink [love2]

Orangtua Pink dan orangtua Ruben ketemuan.
“Maaf, kita harus bertemu di saat seperti ini,” kata papa Pink.
“Mudah2an suntikan dana dari kami bisa membantu kalian,” kata papa Ruben. Dia nggak dateng sama istrinya. Ternyata dia membantu keuangan keluarga Pink.
“Lagi pula Pink akan jadi calon menantu keluarga kami,” lanjut papa Ruben.
Pink dan Ruben yang juga ada di sana cuma mesem aja.

Ibu Ruben (Henidar) yang sedang sakit teringat dengan masa lalunya waktu Reza masih kecil dan Reigy masih bayi. Suaminya yang pemabuk membawa seorang wanita ke rumah dan ia mengusir Henidar beserta dua anaknya. Mereka pun pergi, kehujanan. Dan sampailah mereka di panti asuhan. Mereka tertidur di depan pintu. Kemudian Henidar meninggalkan mereka beserta sebuah surat. Beberapa waktu kemudian ia mendatangi panti itu lagi. Tapi dia cuma mengintip dari kejauhan. Dia melihat Reza dan Reigy. Dia berjanji pada dirinya akan menjemput anak2nya suatu hari nanti.

Pagi2, Renata menyiapkan sarapan buat Ruben dan Robin.
“Biasanya mama yang nyiapin sarapan,” kata Robin (atau Ruben?)
“Sebentar ya. Aku panggil mama,” kata Renata.
Dia mendatangi kamar ibunya, tapi ibunya sedang mengguyur dirinya dengan air pancuran di kamar mandi, seperti dulu. Renata panik. Dia berteriak memanggil Robin dan Ruben. Segera saja dua anak lelaki itu datang dan membopong ibu mereka.

Pink muncul di rumah Ruben.
“Kenapa?” tanyanya.
“Mama,” sahut Ruben.
“Bilang sama mama supaya enjoy sama hidupnya.”
“Itu elo,” Ruben nyindir Pink, tapi maksudnya becanda :). Terus dia cerita tentang papanya yang masih ngambek sama mamanya.
“Kemaren papa pergi nggak pulang semaleman.”
“Kasian. Persoalan orang tua emang susah. Tau gitu mending gue segini2 aja,” kata Pink. Maksudnya dia nggak mau jadi tua :)
“Dasar, lo.”
“Gue mau ketemu donk sama mama.”
Ruben mengantar Pink ke kamar ibunya.
“Mama sakit apa? Udah ke dokter?” tanya Pink.
Ibu Ruben tersenyum.
“Penyakit mama ini bukan dokter yang bisa nyembuhin,” katanya. Ternyata ia ingin sekali bertemu dengan dua anak kandungnya, Reza dan Reigy. Pink berkata akan berupaya membawa mereka.

Di tempat tinggal Reza, ibu panti membujuk Reza agar ia memaafkan perbuatan bundanya yang telah meninggalkan dia dan Reigy di panti asuhan. Tapi Reza keras kepala. Dia nggak mau maafin ibunya. Padahal Reigy mau.

Pink naik mobil bersama Ruben. Mereka sedang menuju kediaman Reza.
“Mudah2an dengan adanya Reza dan Reigy, bunda bisa bahagia,” kata Pink.
“Mudah2an,” sahut Ruben. “Gue akan coba bujuk bokap, demi lo.”
“Kok gue?” Pink heran.
“Elo kan sayang banget sama...”
“Engga...engga...” potong Pink cepet2. “Gue nggak sayang kok...”
“Lho, elo ngga sayang sama Jingga?” tanya Ruben. Dan itu bikin Pink jadi salting (salah tingkah ;))
“Oh, Jingga...eh...gue sayang banget sama dia.”
Dalam hati Pink mikir, gue kira Ruben mau bilang gue sayang sama Reza...[whistle]

Pink mengajak Reza untuk menemui bunda (ibu kandung Reza). Tapi Reza bersikeras nggak mau ikut. Akhirnya Reigy saja yang pergi bersama Pink dan Ruben. Reigy masuk kamar bundanya yang kala itu sedang tertidur. Dia membangunkan. Bundanya senang sekali melihat Reigy. Dia menanyakan Reza. Tapi dijawab oleh Reigy dengan bahasa isyarat kalau dia hanya sendiri.

Ruben menemui papanya di ruang kerja.
“Papa mau bantu Reza? Bukan dia yang mencuri aset Pak Hernawan.”
“Bagaimana ya. Reza anaknya mama sih.”
“Kalau namanya tidak segera dibersihkan, nanti dia susah cari kerja,” Ruben terus merayu. “Reza itu kan calon menantunya Pak Hernawan. Reza itu tunangannya Jingga. Jingga itu kakaknya Pink. Pink itu...”
“Kamu itu, ujung2nya Pink,” potong papanya :D:D:D
“Bantuin ya, pa.”

Pink menemui Reza. Dia terus membujuk Reza agar memaafkan ibu kandungnya karena pada saat itu bunda Reza juga dalam keadaan yang sulit.
“Bokap gue pemabuk. Ibu gue buang gue. Mendingan gue nggak usah dilahirin!” Reza marah sekali.
Tapi Pink akhirnya berhasil membujuk Reza.

Ruben mengejar Pink yang mau berangkat sekolah.
“Pink, kalau kamu ke tempat Reza, ajak2 donk,” kata Ruben.
“Tau dari mana lo kalau gue ke tempatnya Reza? Apa lo punya dukun? Atau lo anaknya peramal? Ahli nujum?” :D:D:p
“Gue kan pengen ketemu sama Reza.”
“Biasanya kalo ada Reza lo suka cemburu2 gitu,” sindir Pink.
“Enggak. Aku dan papa mau bantu membersihkan nama baik Reza.”
“Serius?”
“Iya. Tapi aku dan papa masih mikir bagaimana caranya. Jadi kapan ketemu Reza?”
“Ntar pulang sekolah.”
Diam2 dari jauh Ibu Nuri mendengarkan pembicaraan mereka.
“Reza?!”
Dia girang banget karena dia sendiri udah kangen sama Reza. Dan dia berencana akan mengikuti Pink dan Ruben pulang sekolah nanti.

Pink dan Ruben berada di restoran. Setelah pelayan mengantarkan pesanan mereka, Ruben menyendok es krim dan menyuapkannya ke Pink.
“Kayak film india aja pake suap2an,” kata Pink [lol][lol]
“Film hollywood juga ada yang suap2an,” bales Ruben.
Pink mikir sebentar.
“Penganten juga suap2an,” katanya ;););)
“Penganten? Lo mau jadi penganten?” tanya ruben :D:D:D:D
“Ngapain harus nuggu jadi penganten. Barusan aja ada yang nyuapin gue.”
Hap! Ruben langsung nyuapin Pink lagi supaya mulutnya diem [lol]
Diam2 Ibu Nuri membuntuti mereka. Dia menutupi wajahnya dengan majalah agar tidak ketahuan.
“Kok jadi ngintipin orang pacaran. Jangan2 mereka ketemu Reza bukan di sini.” [lol]

Henidar (ibu kandung Reza) mendatangi tempat tinggal Reza. Ternyata Reza mau memaafkannya. Papa, Ruben, Robin dan Renata menyusul ke sana juga.
“Saya tau dari anak2,” kata papa Ruben.
“Saya bersedia dicerai kok, mas,” kata mama Ruben. Bikin semuanya jadi kaget.
“Saya bersalah karena telah berbohong.”
“Papa tidak akan menceraikan mama. Mulai sekarang kita akan bangun keluarga besar kita dengan bahagia,” kata papa Ruben.
Semuanya lega.
“Ayo, kita pulang,” ajak papa Ruben.

Papa Luna minta tolong ke Faisal untuk menolongnya.

Reza nelpon Jingga. Jingga seneng banget. Suara Jingga kayak orang abis sakit tapi dia bilang ke Reza bahwa dia baik2 saja. Reza bicara pada papa Jingga. Beliau percaya bahwa bukan Reza yang mencuri asetnya.

Reza mendatangi kamar Robin. Tuh anak lagi duduk sambil semedi :D:D bukan ding, tapi lagi yoga.
“Za, lu harus memperhatikan Ji-ngga deh. Soalnya Jingga kan lagi...”
Tiba2 hp Robin bunyi.
“Bentar ya.”
Robin keluar.
“Hallo, Jingga.”
“Bin, lu jangan bilang kalo gue sakit. Gue nggak mau dibilang penyakitan.”
Pink denger Jingga menelpon. Begitu Jingga selesai nelpon, Pink bicara padanya.
“Lu nggak bisa gitu donk, Ngga,” kata Pink. “Dia kan calon suami lo. Dia harus tau keadaan lo yang sebenernya.”
“Nggak, Pink! Aku nggak mau Reza ninggalin aku.”

Luna mendatangi Jingga. Jingga juga meminta Luna tutup mulut tentang keadaannya pada Reza. Tapi Luna mengharapkan ‘balasan’. Jingga bilang Luna boleh minta apa aja yang dia mau. Luna pun bilang,
“Gue minta...”
Belum selesai ngomong tiba2 Luna mual2. Pas ditest ternyata dia hamil.

Pink lagi duduk di teras atas (kurang jelas deh itu di rumah Pink atau di rumah Ruben).
Reza muncul dari dalam.
“Setiap gue ngeliat lu dan Ruben, gue nggak suka,” kata Reza. “Gue sayang sama lu. Dan gue tau lu masih sayang sama gue.”
Pink terpana. Tanpa Reza tahu, Jingga mendengar perkataan itu dari dalam rumah.
“Kalau disuruh milih, lo bakalan pilih Ruben atau gue?”
Pink nggak bisa jawab. Jingga langsung lari menjauh.
Pink dan Reza mendengar suara langkah kaki itu.
“Jingga!” Pink lari masuk ke dalam diikuti Reza.
Jingga berdiri di pinggir tangga.
“Lebih baik gue mati!” jeritnya emosi *Jingga berlebihan banget deh* [boring]
“Lu apaan sih?” kata Pink. “Kalo Reza nggak cinta sama lo, dia nggak bakal ngelamar lo.”
Pink nggak tau kalau lamaran itu atas paksaan keluarga angkat Reza. Sekarang Reza udah bebas dari mereka. Jadi...
“Kalau lo nggak suka ngeliat gue sama Reza, gue akan kabur kalau ngeliat Reza,” ujar Pink sambil nangis [cry][cry]. Kata2nya lumayan panjang. Intinya dia rela berkorban apa aja demi Jingga. Baiknyaaaa...
“Gue sayang banget banget sama lo, Ngga,” kata Reza. “Sebentar lagi kita akan menikah.”
Setelah perdebatan itu, kayaknya Jingga nggak kuat. Dia hampir pingsan. Dia akan jatuh dari tangga kalau aja Ruben nggak buru2 muncul. Dia berhasil menahan tubuh Jingga. Reza langsung memeluk Jingga. Ruben memeluk Pink yang masih nangis :(. Tapi diam2, mata Pink dan Reza saling memandang.

Bersambung...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar