26 Agt 2006

PINK Episode 21


Pink Episode 21

Ibunda Reigy melihat anak perempuannya berenang. Ia sempat menyesal karena tidak bisa melihat perkembangan putrinya itu. Namun sekarang ia senang karena Reigy sudah berkumpul kembali dengannya.

Sementara Luna yang hamil, minta pertanggungjawaban Faisal.

Pink melihat Jingga di kamarnya. Dia sudah tertidur. Kemudian Pink turun tangga yang langsung disambut oleh Ruben.
“Pink, gimana?” tanya Ruben.
“Jingga baik2 aja. Tadi dia udah minum obat.”
“Bukan Jingga. Tapi elo. Lu nggak apa2 kan?”
Pink tidak menjawab. Lalu Ruben memeluk Pink, dia tahu Pink masih shock. Tapi pelukan itu dengan segera dilepas oleh Pink begitu dia melihat Reza.
“Ya udah gue mau pulang dulu,” kata Ruben. “Mau bareng?” tanya Ruben pada Reza.
“Duluan aja. Gue masih ada perlu sama Om Hernawan,” kata Reza.
Akhirnya Ruben pergi, tapi dia sempat menoleh ke belakang. Seakan-akan curiga dengan kedekatan Pink dengan Reza.

Kepada Om Hernawan, Reza melamar Jingga. Dia sudah tau keadaan Jingga dan berniat ingin membahagiakannya. Malah dia ingin pernikahannya dipercepat.

Keluarga Ruben berkumpul membicarakan rencana pernikahan Reza yang terkesan mendadak. Tapi mereka menerima apa pun keputusan Reza. Lagipula Jingga ingin pernikahannya berlangsung secara sederhana. Saat itulah Ruben muncul mencari2 Robin.
“Robin mana, ya?” tanyanya.
“Tadi pagi dia pergi ke rumah Jingga,” kata Renata. Dalam hati dia berpikir. Oh iya, Robin kan naksir Jingga.

Jingga senang sekali karena Reza tetap menikahinya walaupun dia dalam keadaan sakit. Malah rencana pernikahannya dipercepat. Dia bercerita pada Pink yang saat itu mau berangkat sekolah. Robin yang baru datang kaget mendengar kata2 Jingga.
“Apa? Kamu mau merit dua minggu lagi, Ngga?”

Pink menarik tangan Ruben untuk duduk di bangku. Saat itu keduanya masih berseragam sekolah.
“Kok kakak lo kaget waktu dengar kakak gue mau merit?” tanya Pink.
“Kakak gue? Robin maksud lo?”
“Iya. Yang mana lagi? Emang kakak lo ada sepuluh?”
“Robin itu emang suka sama Jingga. Kemarin gue dan Rena juga binugung bagimana ngasih tau ke dia.”
“Kok bisa, ya?”
“Ternyata keluarga lo punya pesona tersendiri buat keluarga gue.”
Pink mau jitak kepala Ruben. Tapi seperti biasa, nggak kena.
“Daripada lo pusing mikirin mereka, mending lo mikirin...gue dan elo. Sebentar lagi kan gue lulus. Lu tau kan gue maunya apa?”
Pink mikir sebentar.
“Oh, lo minta hadiah kalo lo lulus?”
Ruben jadi gemes karena Pink nggak tau keinginannya. Lalu ia berjongkok di depan Pink.
“Gue mau kita tunangan,” katanya.

“Hah? Tunangan?” teman2 Pink kaget sewaktu Pink menceritakan hal itu pada mereka.
“Preman itu ngajak lo tunangan?” tanya temen Pink yang cowok.
“Namanya Ruben! Bukan preman!” Pink protes.

Ketika sedang bersama Reigy dan ibunya, Renata melihat Faisal sedang bersama seorang wanita.

“Kenapa lo mau merit sama Jingga? Lu kan sukanya sama Pink,” tanya Robin pada Reza.
“Gue mau membahagiakan Jingga di saat2 terakhirnya,” kata Reza.
“jadi lu udah tau dia sakit? Lu tau dari mana?”
“Nggak penting gue tau dari mana. Jingga itu butuh dicintai.”

Faisal menurunkan Vera, pacarnya di tengah jalan karena wanita itu mengancam akan melaporkan perbuatan Faisal ke polisi. Faisal mengejarnya, tapi Vera berhasil bersembunyi di sebuah rumah kecil.

Pink dan Ruben bicara di rumah Pink. Sepertinya mereka sedang membahas rencana pertunangan mereka.
“Gue mau ngomong tapi gue harap jawaban lu memuaskan,” kata Ruben.
Saat itulah Jingga dan Reza muncul. Mereka snagat mesra. Jingga memeluk Reza.
Pink pura2 mesra juga dengan Ruben. Dia menyuapkan Ruben makanan.
“Manis, nggak?” tanya Pink imut.
“Hm...m...”
“Itu karena lu makannya sambil ngeliat gue, makanya manis...hehehe...”
“Hai!” sapa Reza.
“Eh, Za.” Pink pura2 baru melihat mereka.
“gue mau pulang dulu, ya.”
Begitu Reza sudah keluar, Ruben minta disuapin lagi. Tapi Pink malah menyodorkan makanan itu ke Ruben. Belum sempat Ruben mengambilnya, Pink langsung memakannya. Nyam!

Luna datang ke rumah Jingga. Dia minta uang tutup mulut. Tapi Jingga tidak mau ngasih.
“Gue akan bilang ke Reza kalau lu itu sakit sekarat dan mau mati,” ancam Luna.
“Bilang aja. Reza udah tau kok. Malah dia mau mempercepat pernikahan kami.”
Luna yang kesal segera pergi. Dia sempat bertubrukan dengan Pink.
“Kenapa tuh orang?” tanya Pink ke Jingga.
“Dia mau meres aku. Selama ini dia aku suruh tutup mulut.”

Faisal datang ke rumah Luna. Dia bilang dia mau bertanggung jawab atas kehamilan Luna. Mereka minum bersama atas ajakan Faisal. Tak lama Luna sakit perut dan pingsan. Ternyata Faisal sudah mencampurkan racun ke dalam minuman itu.

Di luar rumah, Ruben dan Robin mengintai dari dalam mobil.
“Katanya mau ke tempat Faisal? Ini sih rumahnya Reza,” kata Robin.
“Tapi Faisal sering ke sini,” kata Ruben.
Seseorang turun dari taksi.
“Itu...” tunjuk Ruben.
“Siapa? Faisal?” tanya Robin.
“Pink!”
Adik kakak itu langsung turun dan masuk ke dalam rumah tersebut.

“Luna!” Pink manggil2 Luna. Tapi yang ia lihat Luna sedang tergeletak di lantai.
“Pink!” Ruben masuk ke rumah itu dan memanggil Pink.
Mereka menemukan Pink bersama Luna yang sedang pingsan.
“Fa...Faisal...” Luna sempat menyebut nama itu.

Mereka membawa Luna ke rumah sakit.
“Luna sempat menyebut nama Faisal.”
“Mudah2an polisi nggak nyalahin lu,” kata Ruben.
“Kok gue? Emang tampang gue ada tampang penjahat? Imut gini,” Pink protes.
“Sedikit,” ledek Robin. “Lu ngapain ke sana?”
“Kakak gue diperes sama Luna. Gue mau ngelabrak dia.”
Dokter datang.
“Untung kalian cepat membawanya. Kami sudah berhasil mengeluarkan racunnya. Luna dan bayinya selamat.”
“Luna hamil?” tanya Pink, Ruben dan Robin kaget.

Luna sedang terbaring. Papanya ngomel.
“Dia kusuruh menghabiskan Reza, malah anakku yang dibuat begini.”
Mama Luna datang dan langsung memeluk anaknya.
“Mana janji kamu? Katanya mau menikahkan Reza dengan Jingga untuk menguras hartanya Hernawan,” kata Mama Luna pada suaminya.
Diam2 Pink mendengar pembicaraan itu. Dan dia sangat terkejut. Ternyata pernikahan itu bukan atas keinginan Reza.
Sementara Mama Luna digampar habis2an oleh suaminya.

Pink merenung di depan jendela.
“Gue kangen banget mau main harmonika gue. Tapi harmonika gue kan ilang,” gumamnya. Dia tidak tahu bahwa harmonikanya ada di tangan Robin.
“Pink!” tiba2 seseorang ada di belakangnya.
“Haaahh!” Pink kaget banget. Ternyata Reza.
“Mau ketemu Jingga? Dia kan lagi cek up sama papa mama,” kata Pink.
“Aku mau ketemu kamu, bukan Jingga,” kata Reza.
Pink sudah tidak tahan bertanya pada Reza.
“Za, lu harus jawab jujur. Lu cinta nggak sama Jingga?” tanya Pink.
“Apa lu mau jawab kalau gue bertanya apa lu cinta sama Ruben?”
Dan ternyata Pink nggak bisa jawab.
“Andai gue punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Yang gue cintai itu elo, Pink.”
“Gue juga cinta sama elo, Za,” kata Pink. Mereka pun berpelukan.
“Sebentar lagi lu bakal jadi kakak gue,” kata Pink.
“Dan sebentar lagi lu bakal jadi adik gue. Gue akan selalu menjaga kamu, Pink.”

Pink mendatangi Ruben. Saat itu Ruben sedang duduk di taman rumahnya.
“Ben,”
Ruben menoleh.
“Gue mau jadi tunangan lu,” kata Pink dengan ragu.
“Apa?”
“Gue mau jadi tunangan lu.”
Walaupun itu merupakan kabar gembira. Tapi raut wajah Pink tidak menyiratkan itu. Ruben tidak menyadarinya. Ia langsung memeluk Pink karena senang.

Mereka berdua berpapasan dengan Reza. Ruben langsung memberitahu kabar gembira itu.
“Sebentar lagi gue dan Pink akan tunangan.”
“Oh ya? Selamat, ya.” Wajah Reza terlihat senang sekali membuat Pink jadi heran.
“Za?”
Tapi Reza tidak peduli. Dia tampak berusaha menutupi kesedihannya.
“Kalian memang serasi.’

Papa Luna mengundang Faisal minum. Mirip seperti yang dilakukan Faisal pada anaknya. Faisal tau itu jebakan. Faisal minta tukar gelas. Papa Luna langsung menodongkan pistol. Ketika itulah beberapa polisi masuk dan segera menangkap mereka. Ternyata yang melaporkan adalah Vera.

Reza dan Jingga akhirnya menikah. Robin melihat mereka, matanya sembab.
“Gue rela lu menikah dengan Reza, asal lu bahagia. Karena sebenarnya gue cinta sama elu,” kata Robin dalam hati.

Bersambung...

*didedikasikan untuk pecinta sinetron Pink, seperti aku :). Sori ya kalau banyak yang kurang2...*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar