13 Agt 2006

PINK Episode 19

Pink Episode 19

Pink beserta kedua orangtuanya berada di rumah sakit.
“Sebenarnya Jingga sakit apa, Dok?” tanya papa Pink tanpa didengar oleh yang lainnya.
Dokternya agak ragu2. Tapi akhirnya dia bilang juga.
“Leukimia.”
Setelah dokternya pergi, Jingga bertanya
“Pa, Jingga sakit apa? Kenapa Reza nggak datang?”
Papanya bingung untuk menjawab.
Pink merenung sebentar

Kemudian ia pergi dari sana. Malam2 di jalan kosong dia menangis. Begitu banyak masalah yang tengah ia had
api. Jingga sakit. Reza pergi. Aset perusahaan ayahnya ludes dicuri orang.

Besoknya dia sekolah, Pink tetap murung. Dia duduk di bangku, sendirian. Ruben melihatnya dan langsung menghampiri.
“Pink.” Ruben duduk di sebelah Pink.
Ruben menggenggam tangan Pink. Tapi Pink langsung menepisnya.
“Gue lagi nggak mau berantem,” katanya.
“Siapa yang ngajak berantem? Orang gue mau ngajak sayang2an :p. Lu kenapa, sih?”
“Kakak gue sakit. Leukimia parah.” Pink sedih sekali. “Reza menghilang. Padahal kakak gue pengen banget ketemu dia. Walaupun Jingga suka jutek ke gue, tapi gue sayang banget sama dia.”
Pink menangis. Ruben menenangkan dengan membelai2 rambut Pink. Lalu Pink menangis di bahu Ruben (cie...cie... ceritanya shoulder to cry on, nih ;))

Papa Reza dan Luna datang ke rumah sakit. Dia mengatakan bahwa Reza cuma anak angkat. Orang tua Jingga terkejut, begitu pula dengan Jingga yang tak sengaja mendengar hal itu. Dan dengan sengaja papa angkat Reza bilang bahwa Reza kabur dengan mancuri aset perusahaan papa Jingga. Padahal orangtua Jingga sudah berusaha menutupi kasus itu dari Jingga. Jingga pingsan mendengarnya. Jingga yang shock jadi sebal dengan Reza. Tapi Pink meyakinkan bahwa Reza tidak seburuk itu.

Robin dan Ruben yang berada di rumah sakit itu, membicarakan tentang kaburnya Reza. Robin, yang dulu berteman dengan Reza mengatakan bahwa Reza orang yang baik. Ruben rada cemburu karena Pink mikirin
Reza melulu.

Dari jauh papa angkat Reza melihat Robin dan Ruben, dan dia tersenyum. Di rumah, dia bicara pada Luna.
“Kamu lihat kan dua anak laki2 yang ada di rumah sakit. Kata Hernawan (papa Pink) mereka anak konglomerat. Kamu harus deketin mereka untuk menyelamatkan keuangan keluarga kita.”
Luna sih oke2 aja.
“Kira2 Luna harus deketin yang mana, pa?’
“Terserah kamu.”

Di sekolah, ibu Nuri menunjukkan sebuah koran pada Pink. Ada berita tentang Reza.
Ya, ampun. Sampe masuk koran segala, batin Pink.
“Apa bener Reza melakukan itu, Pink?” tanya ibu Nuri.
“Ibu percaya?”

Pink pulang sekolah. Ruben mengejarnya.
“Lu nggak ke rumah sakit?” tanya Ruben.
“Gue mau ke tempat lain dulu.”
Setelah Pink meninggalkannya, Robin menelpon. Tampaknya Ruben diminta ke rumah sakit.

Robin bermaksud baik memperhatikan Jingga. Dia mau nyuapin Jingga supaya Jingga cepet smebuh. Tapi
Jingga, yang masih kepikiran dengan Reza, malah jutekin dia. Mereka pun berantem. Robin yang sedang kesal malah dideketin Luna.

Ruben datang ke rumah sakit. Ia duduk di sebelah Robin. Belum sempat mereka bicara, Robin melihat kehadiran Luna.
“Yah, dia lagi,” gerutunya. Robin pun kabur :D. Ruben heran.
Tapi Luna tetap berada di sana. Dia menggeser duduknya ke sebelah Ruben dan mencoba mendekatinya. Ruben risih.
“Lu bisa ke sana nggak? Di sana kan lega,” kata Ruben sambil menunjuk bangku kosong di sebelah Luna.
“Enggak. Kenapa?”
“Gerah, tau!” Ruben mengibas2kan baju sekolahnya. Kayak orang kepanasan :p
Ruben menggeser duduknya. Eh, Luna ngikutin. Ruben yang sebal akhirnya kaburrrr...:D

Pink pergi ke panti asuhan Reigy. Ibu panti memberikan alamat Imam, teman Reza. Pink pun langsung mencari alamat itu. Dia bertemu dengan seseorang dan bertanya,
“Bang, tau alamat ini nggak?”
Laki2 itu memperhatikan alamat yang diperlihatkan Pink.
“Saya mau ketemu Bang Imam,” kata Pink. “Abang bisa anterin saya?”
Laki2 itu mengangguk. Kayaknya laki2 itu tukang ojek.
Pink dibawa naik motor. Mereka berhenti di sebuah kebun.
Pink turun.
“Kok kita ke sini sih?” Pink protes.
“Kamu siapa? Ngapain cari2 saya dan Reza? Kamu orang suruhannya dokter Rio? Atau Luna?” laki2 itu judes banget.
“Jadi abang ini abang Imam?” akhirnya Pink tau orang yang dia cari ada di depannya.
“Kamu siapa?”
“Pink.”
“Oh, Pink.” Tiba2 raut wajah Imam jadi baik. “Reza sering cerita tentang kamu.”
“Abang tau Reza dimana?”
“Saya nggak tau. Sudah lama saya nggak ketemu dia.”
Tapi Pink nggak percaya.

Robin minta maaf ke Jingga atas sikapnya tadi.

R
uben sedang makan sendirian di kantin rumah sakit. Tiba-tiba Luna datang. Ruben langsung cemberut.
“Nggak ada tempat lain, ya?”
“Emang ada yang ngelarang kalau gue duduk di sini?” Luna balik nanya.
Ruben bete. Luna melihat Pink datang. Luna langsung deketin Ruben.
“Katanya lu jago main bilyar ya?” Luna nanya2 sok akrab.
Melihat Luna ada di sebelah Ruben, Pink mengambil duduk di antara mereka berdua dan langsung nyerocos panjang lebar.
“Eh, denger2 ada yang mau main bilyar, nih. Kok nggak ngajak2 gue sih? Ben, kita kan udah lama nggak main bilyar. Sekalian aja ajak temen2. Mumpung dibayarin.” ;);)
Ruben sih senyum2 aja.














Luna langsung pasang muka kecut.
“Telpon, Ben,” kata Pink. Saat Ruben mau mengambil handphone-nya, Luna pun pergi.
“Eh, mbak, main bilyarnya nggak jadi?!” seru Pink. Luna pasti dongkol berat :p
Pink dan Ruben tertawa. Untuk sesaat kamera mengarah ke Ruben. Sepertinya dia seneng karena Pink berhasil membuat Luna pergi. Atau karena emang Pink nggak rela Ruben dideketin sama Luna? ;)

Di rumah, Papa Mama Pink lagi ngomongin penyakit Jingga. Dan mereka sempat menyinggung tentang donor sumsum buat Jingga. Walaupun sebenarnya sudah agak terlambat. Pink yang mendengarnya, langsung menawarkan diri untuk jadi donor buat Jingga (baik hati banget ya :))

Luna pergi ke tempat Faisal. Faisal lagi seneng banget karena bisa mencuri aset perusahaan bosnya. Dan bosnya malah menuduh calon menantunya yang mencuri aset itu. Faisal memberi tahu bahwa nama bosnya adalah Hernawan dan yang dituduh bernama Reza. Luna kaget.

Pink didorong dengan kursi roda oleh seorang suster.
“Pink, kamu nggak apa2?” tanya Ruben. Tampaknya dia khawatir sekali.
“Nggak apa2. Cuma tadi pas prosesnya sakit banget.”
Ternyata Pink baru periksa sumsum tulang belakang. Apakah cocok dengan Jingga atau tidak.
“Mudah2an cocok,” kata Pink.
“Iya, mudah2an cocok,” sahut Ruben.
Teman2 Pink dan Ruben datang. Rame banget.
“Pink, kok lo nggak bilang ke kita2?” serbu mereka.
“Sori guys, abis mendadak banget.”

Pink datang ke panti asuhan Reigy. Ternyata di sana ada ibunya Ruben sedang bicara dengan ibu panti.
“Maaf, saya tinggal dulu,” ibu panti pamit masuk ke dalam.
Pink melihat sesuatu di meja. Dia mengambilnya.
“Lho, ini kan foto Reza.”
Itu foto yang dimiliki ibu Ruben. Foto dia, Reza kecil dan Reigy yang masih bayi.
Ibu Ruben sedih.
“Reza dan Reigy sebenarnya mereka...a..anak mama.”
Pink kaget.
Ibu Ruben menceritakan bahwa dulu dia terpaksa meninggalkan dua anaknya di panti. Tanpa dia tahu Renata mendengar, begitu juga papa Ruben.

Di rumah, Papa Ruben memarahi istrinya karena sudah membohonginya selama bertahun2. Dia menyangka istrinya adalah orang yang baik. Tapi dengan tega meninggalkan dua anaknya di panti. Saat makan malam, papa Ruben masih ngambek. Dia nyuekin mama Ruben, tapi tiga anaknya malah sibuk godain :p.
“Ayo, dimakan sayurnya,” kata papa Ruben pada anak2nya.
“Pa, kok mama nggak ditawarin?” kata Robin jail ;);)
Papa Ruben dan tiga anaknya bicara dekat kolam renang. Mereka membujuk papa untuk memaafkan mama.
“Pa, maafin mama ya,” kata Renata.
“Dulu waktu mama belum ada keluarga kita tercerai berai. Tapi begitu mama ada, keluarga kita menjadi keluarga yang utuh,” kata Robin.
Papa Ruben sepertinya masih bimbang.

Bersama teman2nya, Pink memperhatikan gerak gerik Imam dari kejauhan. Mereka berniat mencari tahu keberadaan Reza.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar